Honda Minta Kepastian Insentif Hybrid sebagai Dasar Investasi Jangka Panjang
Poin kunci
- 1Honda menilai kepastian insentif hybrid menjadi faktor dalam menyusun strategi investasi jangka panjang di Indonesia.
- 2Kemenperin tengah mengkaji fasilitas bagi hybrid, PHEV, dan REEV dengan skema berbeda dari insentif BEV.
- 3Insentif nonfiskal yang dimatangkan mencakup kemudahan administrasi, pembebasan ganjil-genap, dan parkir khusus.
- 4Honda menyiapkan sistem Honda Hybrid untuk 15 model baru hingga Maret 2030, dengan model perdana mulai 2027.

PT Honda Prospect Motor (HPM) meminta konsistensi kebijakan insentif kendaraan hybrid sebagai pegangan investasi jangka panjang. Permintaan itu disampaikan Yusak Billy di Alam Sutera, Tangerang, Kamis (29/10), saat Kemenperin mengkaji fasilitas bagi hybrid, PHEV, dan REEV dengan skema berbeda dari BEV.
JAKARTA, KABAR GAS POL — PT Honda Prospect Motor (HPM) meminta kejelasan arah kebijakan insentif kendaraan hybrid. Bagi Honda, kepastian itu menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun strategi investasi jangka panjang di Indonesia.
Permintaan tersebut disampaikan Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy, di Alam Sutera, Tangerang, Kamis (29/10).
"Fiskal kami masih diskusi dan belum bisa dibicarakan, tapi yang pasti perlu konsistensi kebijakan jangka panjang," kata Yusak Billy.
HPM menyambut positif rencana pemerintah mengkaji insentif bagi kendaraan elektrifikasi, yakni hybrid, PHEV, dan REEV. Pembahasan itu berada di Kementerian Perindustrian (Kemenperin), yang merancang skema berbeda dari insentif kendaraan listrik murni (BEV).
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyatakan usulan insentif akan diajukan tahun ini. Menurut dia, industri tidak meminta besaran setara BEV, asalkan insentif tersedia.
Sarmuji juga menegaskan bahwa dukungan pemerintah tidak otomatis berbentuk pemotongan pajak. Ia mendorong insentif nonfiskal yang bentuknya tengah dimatangkan: kemudahan administrasi, pembebasan aturan ganjil-genap, dan penyediaan parkir khusus.
Besaran dukungan yang diusulkan masih memerlukan penjelasan lebih lanjut, sehingga nilai dan bentuk insentif belum final. Honda sendiri belum merinci dukungan fiskal yang dibahas bersama pemerintah.
Yusak menilai insentif bagi kendaraan beremisi rendah dapat membuat harga lebih bersaing dan memperbanyak pilihan konsumen. Dukungan pemerintah, menurut Honda, berpotensi meningkatkan daya saing harga kendaraan.
"Yang diharapkan dari sini kan dengan industri otomotif tumbuh karena harga bersaing dan banyak pilihan bagi konsumen untuk bisa memilih kan industri otomotif akan naik," kata Yusak Billy.
Jika yang tersedia hanya dukungan nonfiskal, Yusak menilai hal itu tetap baik. Insentif nonfiskal dipandang berpotensi membantu pelaku industri, tetapi kepastian pelaksanaannya turut memengaruhi perencanaan bisnis.
Hybrid, PHEV, dan REEV masih memakai komponen mesin pembakaran internal (ICE) dalam produksinya. Yusak menjelaskan, penggunaan komponen itu ikut menopang keberlangsungan industri komponen otomotif.
Tingkat kepemilikan mobil di Indonesia tercatat 99 per 1.000 penduduk, tertinggal dari Malaysia dengan 490 dan Thailand dengan 275.
Di level global, Honda memperkenalkan sistem penggerak bernama resmi Honda Hybrid. Sistem itu dijadwalkan terpasang pada 15 model baru hingga Maret 2030, dan model hybrid perdana mulai meluncur pada 2027. Honda juga membatalkan proyek mobil listrik 0 Series dan memilih memusatkan garapan pada hybrid generasi terbaru. Peluncuran model-model itu memprioritaskan Amerika Utara.
Analisis redaksi
Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta
Permintaan Honda menunjukkan bahwa bagi produsen, kepastian aturan dapat sama pentingnya dengan besaran insentif. Yusak Billy menegaskan perlunya konsistensi kebijakan jangka panjang, sementara bentuk fiskalnya belum bisa dibuka. Di sisi pemerintah, Sarmuji menyatakan rincian nilai dan bentuk insentif belum final dan dukungan tidak otomatis berupa potongan pajak. Kesenjangan antara kebutuhan kepastian dan rancangan yang masih cair ini patut dicermati.
Skema yang disiapkan Kemenperin berbeda dari insentif BEV, dan industri disebut tidak menuntut besaran setara. Insentif nonfiskal seperti pembebasan ganjil-genap dan parkir khusus dapat menjadi opsi yang relatif ringan bagi anggaran, meski kepastian pelaksanaannya turut memengaruhi perencanaan bisnis. Karena kendaraan ini masih memakai komponen ICE, kebijakan insentifnya juga berpotensi bersinggungan dengan industri komponen otomotif.
- Honda
- PT Honda Prospect Motor
- Yusak Billy
- Kemenperin
- kendaraan hybrid
- insentif kendaraan listrik
Baca juga
Honda Sambut Wacana Insentif Hybrid, PHEV, REEV dan Minta Kebijakan Konsisten
30 Okt 2026, 13.12Bisnis OtomotifMAB Minta Insentif EV Diperluas ke Bus dan Truk, Beban Subsidi BBM Bisa Turun
31 Okt 2026, 13.15Bisnis OtomotifInsentif Mobil Hybrid Dibahas, tetapi Nominal dan Waktunya Belum Jelas
1 Nov 2026, 18.41MobilHybrid Jepang Lawan EV China di GIIAS Makassar, Test Drive Jadi Ajang Uji
3 Nov 2026, 18.08Terbaru
- Farhan: Gaya Hidup Picu Inflasi Bandung 2,95 Persen, BBM Teratas · Bisnis Otomotif ·
- Jaecoo Tepis Cacat Produksi pada Roda J5 yang Lepas, Rujuk Keterangan Pemilik · Mobil ·
- Produksi Mobil Naik 16% hingga September, Pemasok Komponen Ikut Terdorong · Bisnis Otomotif ·
- Thailand Naikkan Bea Mobil Listrik Impor Utuh dari 10 ke 35 Persen · Bisnis Otomotif ·
- Tarif Listrik Turun 2%: Berapa Biaya Mengisi Mobil dan Motor Listrik di Rumah? · Bisnis Otomotif ·
- Toyota Tetap Merek Otomotif Paling Berharga 2026, Ferrari dan BYD Naik · Bisnis Otomotif ·