Pasar Prediksi The Fed Tahan Suku Bunga Oktober, Fokus Beralih ke Sinyal Kenaikan Desember
Poin kunci

Pasar keuangan memprediksi Federal Reserve akan menahan suku bunga acuan pada pertemuan Oktober 2026 dengan peluang kenaikan hanya 10%. Namun, ekonom dan analis menyoroti bahwa langkah ini bersifat sementara, dengan kenaikan berikutnya diproyeksikan terjadi pada Desember untuk mengatasi inflasi yang masih tinggi di 3,7%. Keputusan ini memicu kekhawatiran terhadap kredibilitas The Fed dan dampak biaya pinjaman yang lebih tinggi bagi konsumen.
JAKARTA, KABAR GAS POL — Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada Rabu, 26 Oktober 2026. Berdasarkan data dari alat FedWatch CME Group, peluang terjadinya kenaikan suku bunga acuan sebesar seperempat poin pada pertemuan tersebut hanya sebesar satu dari sepuluh. Hal ini sejalan dengan konsensus hampir seluruh ekonom yang menyatakan bahwa The Fed akan melewatkan kenaikan pada Oktober namun akan menaikkan suku bunga kembali pada Desember.
Ekonom Nomura, Ruchir Sharma, mencatat bahwa Ketua Warsh tidak akan memberikan panduan langsung secara eksplisit, namun diharapkan akan mendukung secara implisit kenaikan suku bunga pada Desember. Sharma menulis, "Chair Warsh is unlikely to offer any direct forward guidance in his press conference, but we expect he will implicitly endorse a December rate hike".
Meskipun menahan suku bunga, tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama. Indeks harga konsumen AS naik pada September, membawa tingkat inflasi tahunan menjadi 3,7%. Heather Long, ekonom utama Navy Federal Credit Union, menekankan bahwa inflasi masih menjadi masalah utama di ekonomi AS, dan ada banyak tanda bahwa hal itu menjadi lebih luas. Long juga menambahkan bahwa situasi ini terjadi mengingat bahwa ini tepat sebelum pemilihan.
Sementara itu, ekonom Bank of America, Aditya Bhave, memperingatkan bahwa jika The Fed menahan diri, pasar dapat mempertanyakan kredibilitas The Fed dalam memerangi inflasi.
The Fed berkomitmen untuk menurunkan inflasi ke target 2%. MarketWatch menyoroti bahwa sinyal nyata untuk langkah selanjutnya The Fed adalah data ekonomi yang akan datang. Bloomberg mencatat bahwa pertemuan Fed kali ini fokus pada pesan Warsh dengan Desember dalam pikiran. Warsh juga mengingatkan pedagang untuk memperhatikan data, meskipun mereka tetap mengikuti jejak The Fed.
Analisis redaksi
Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta
Prediksi The Fed untuk menahan suku bunga pada Oktober 2026, meskipun peluang kenaikan sangat kecil, justru menjadi sinyal kuat bahwa kenaikan berikutnya akan terjadi pada Desember. Hal ini patut dicermati karena dapat berpotensi meningkatkan biaya pinjaman global. Ketika suku bunga acuan AS naik, biaya utang pemerintah dan korporasi AS juga meningkat, yang dapat merambat ke pasar keuangan global melalui aliran modal dan nilai tukar mata uang. Bagi Indonesia, sebagai pasar emerging yang sensitif terhadap kebijakan bank sentral AS, hal ini dapat mempersempit ruang gerak Bank Indonesia dalam menetapkan kebijakan moneter domestik. Jika The Fed menaikkan suku bunga, dana asing mungkin kembali mengalir ke aset dolar AS yang imbal hasilnya lebih menarik, sehingga menekan nilai rupiah dan meningkatkan biaya impor bagi Indonesia.
Selain itu, inflasi yang masih berada di 3,7% dan tren yang menjadi lebih luas menunjukkan bahwa perang melawan inflasi belum selesai. Komitmen The Fed untuk menurunkan inflasi ke target 2% masih menjadi prioritas, namun risiko "hard landing" atau resesi tetap ada jika kenaikan suku bunga dilakukan terlalu agresif. Bagi pelaku usaha dan konsumen, biaya pinjaman yang tinggi, seperti suku bunga kartu kredit yang sudah mencapai 23,96% dan hipotek mendekati 7,4%, dapat mengurangi daya beli dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, setiap sinyal dari Ketua Warsh mengenai data ekonomi menjadi sangat krusial untuk memprediksi kecepatan dan besaran kenaikan suku bunga di akhir tahun.
- Federal Reserve
- Suku Bunga
- Inflasi
- Ekonomi
Baca juga
The Fed Tahan Suku Bunga, Dolar Kuat dan Rupiah Tekan
29 Okt 2026, 07.03MobilPDB AS Kuartal III Tumbuh 3,4%, Dipacu Belanja Konsumen dan Investasi AI
14 jam laluBisnis OtomotifRupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Apa Dampaknya bagi Biaya Otomotif?
27 Okt 2026, 14.34Bisnis OtomotifBCA Revisi Target Kredit 2026 Jadi 10-12 Persen, Laba 9M Capai Rp45,2 Triliun
28 Okt 2026, 14.09Terbaru
- Menperin Kaji Pengecualian Ganjil Genap Mobil Listrik, Pemilik BEV Jakarta Menunggu · Kebijakan ·
- IMOS 2026 Diikuti 15 Merek Motor, Sepuluh di Antaranya Bukan Anggota AISI · Mobil ·
- VW Tour Satukan Tanah Lot dan Jatiluwih dalam Satu Rute di Tabanan · Mobil ·
- Bahlil: 30 Perusahaan Cangkang Tak Lagi Bisa Impor BBM, Bagaimana Harganya? · Bisnis Otomotif ·
- Kurir dan Ojol Jadi Sasaran Pertama Motor Listrik 2027, Bagaimana Syaratnya? · Kebijakan ·
- Tiga Pertanyaan yang Tersisa dari Prospektus IPO Anthropic: Biaya, Cloud, Risiko · Bisnis Otomotif ·