Rupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Apa Dampaknya bagi Biaya Otomotif?
Poin kunci
- 1Rupiah ditutup di Rp18.135 per dolar AS pada Senin sore, melemah Rp55 atau 0,30 persen di pasar spot.
- 2Penutupan rupiah menjadi yang terlemah sejak awal Juni 2026 atau dalam empat bulan terakhir.
- 3Brent untuk pengiriman Desember ditutup di 116,72 dolar AS per barel, naik 3,14 persen.
- 4Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar spot, NDF, dan DNDF.

Rupiah ditutup melemah pada Senin, 26 Oktober 2026, dengan dolar AS bertengger di kisaran Rp18.110 hingga Rp18.135 menurut sejumlah pencatat pasar. Pelemahan ini disebut terkait kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia. Bank Indonesia menyatakan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas.
JAKARTA, KABAR GAS POL — Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Di pasar spot, rupiah ditutup di Rp18.135 per dolar AS, turun Rp55 atau 0,30 persen dari hari sebelumnya. Sementara itu, kurs Jisdor tercatat melemah Rp47 menjadi Rp18.116 per dolar AS.
Angka penutupan berbeda antarpencatat. Menurut catatan lain, rupiah berakhir melemah 0,39 persen di Rp18.110 per dolar AS, dibandingkan penutupan Jumat (23/10/2026) di Rp18.040. Level itu merupakan penutupan terlemah sejak awal Juni 2026. Rupiah sempat menyentuh Rp18.130 sebelum memangkas pelemahan sebesar 20 poin menjelang penutupan.
Sejak pembukaan, tekanan sudah terasa. Rupiah dibuka melemah 9 poin atau 0,05 persen di Rp18.089 per dolar AS. Pada pukul 14.12 WIB, data Bloomberg menunjukkan rupiah berada di Rp18.133, turun 53 poin atau 0,29 persen dari penutupan sebelumnya di Rp18.080.
Sepanjang 2026, dolar AS menguat 8,60 persen terhadap rupiah berdasarkan data RTI Business. Pada Juli 2026, BRI Danareksa Sekuritas mencatat dolar AS pernah menyentuh Rp18.279.
Pasar dibayangi kekhawatiran eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia, di samping dana asing yang keluar dari pasar saham domestik.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai arah rupiah masih tertekan. "Rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS di tengah kekuatiran eskalasi tensi geopolitik timteng yang kembali membuat harga minyak naik di atas $100 per barel," kata Lukman Leong. Ia juga menyoroti arus dana keluar. "Outflow masih cukup besar, rata-rata harian masih Rp1-2 triliunan," kata Lukman.
Pada Kamis, 22 Oktober 2026, investor asing mencatatkan jual bersih Rp1,48 triliun di seluruh pasar, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia. Untuk perdagangan Selasa, analis mata uang Ibrahim Assuaibi memprakirakan rupiah bergerak fluktuatif pada rentang Rp18.130 hingga Rp18.180. Adapun sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.250.
Pelemahan tidak hanya dialami rupiah. Peso Filipina turun 0,54 persen, rupee India 0,32 persen, yen Jepang 0,25 persen, dan dolar Singapura 0,13 persen. Dari kelompok mata uang negara maju, poundsterling, dolar Australia, dolar Kanada, dan franc Swiss juga melemah, sedangkan euro menguat. Indeks dolar AS justru melemah tipis 0,01 persen ke posisi 101,802.
"Kita tetap ada di pasar. Ini tergantung supply and demand. Hari ini mungkin lagi... Ya pokoknya tetap kita monitor, kita memantau pergerakannya," kata Destry Damayanti. Ia juga menepis anggapan adanya perubahan pola intervensi. "Enggak, enggak, enggak. Ini volatilitas biasa, tapi kita akan terus monitor. Kita lihat root cause-nya juga," kata Destry Damayanti.
BI menjalankan intervensi lewat tiga jalur, yakni transaksi spot, non-deliverable forward (NDF), dan domestic non-deliverable forward (DNDF). Bank sentral juga menurunkan giro wajib minimum (GWM) rata-rata sebesar 2 persen.
Dari sisi fiskal, harga minyak mentah Indonesia sudah berada di US$91,9 per barel hingga akhir September 2026, sementara asumsi APBN hanya US$70. Setiap kenaikan US$1 per barel berpotensi melebarkan defisit APBN hingga Rp6,8 triliun. "Setiap kenaikan ICP sebesar US$1 per barel berpotensi memperlebar defisit APBN hingga Rp6,8 triliun," kata Ibrahim Assuaibi. Belanja subsidi dan kompensasi energi sampai 30 September 2026 tercatat Rp376,8 triliun, naik 54,1 persen secara tahunan.
Analisis redaksi
Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta
Bagi pelaku otomotif, pelemahan rupiah dapat menjadi persoalan ganda. Yang tercatat adalah arah kurs: dolar AS sudah menguat 8,60 persen terhadap rupiah sepanjang 2026, dan penutupan terakhir menjadi yang terlemah dalam empat bulan. Apakah selisih kurs itu diteruskan ke label harga akan bergantung pada strategi masing-masing pabrikan dan importir, sesuatu yang patut dicermati dalam beberapa pekan ke depan.
Kedua, jalur minyak. Kombinasi kurs lemah dan minyak mahal dapat menambah tekanan pada ruang fiskal yang menopang harga BBM di dalam negeri. Apakah tekanan itu berujung pada penyesuaian harga BBM atau kebijakan pajak kendaraan belum bisa dipastikan, sebab bahan yang ada tidak memuat rencana pemerintah ke arah tersebut. Bagi pemilik dan operator kendaraan, yang patut diawasi adalah apakah tekanan kurs dan minyak ini bertahan, mengingat pasar memprakirakan rupiah masih bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.250 sepanjang pekan ini.
- Rupiah
- Dolar AS
- Biaya Otomotif
- Bank Indonesia
- Harga Minyak Dunia
Baca juga
Rupiah Tembus Rekor Terlemah Rp18.183, Beban Impor dan Subsidi Energi Berpotensi Membengkak
28 Okt 2026, 18.05Bisnis OtomotifThe Fed Tahan Suku Bunga, Dolar Kuat dan Rupiah Tekan
29 Okt 2026, 07.03Bisnis OtomotifBrent Tembus $116, Wall Street Tertekan: Seberapa Jauh Imbasnya ke Biaya Kendaraan?
25 Okt 2026, 07.09Bisnis OtomotifBrent Tembus $116, Berapa Beban Biaya Operasional Kendaraan di Indonesia?
24 Okt 2026, 07.34Terbaru
- Menperin Kaji Pengecualian Ganjil Genap Mobil Listrik, Pemilik BEV Jakarta Menunggu · Kebijakan ·
- IMOS 2026 Diikuti 15 Merek Motor, Sepuluh di Antaranya Bukan Anggota AISI · Mobil ·
- VW Tour Satukan Tanah Lot dan Jatiluwih dalam Satu Rute di Tabanan · Mobil ·
- Bahlil: 30 Perusahaan Cangkang Tak Lagi Bisa Impor BBM, Bagaimana Harganya? · Bisnis Otomotif ·
- Kurir dan Ojol Jadi Sasaran Pertama Motor Listrik 2027, Bagaimana Syaratnya? · Kebijakan ·
- Tiga Pertanyaan yang Tersisa dari Prospektus IPO Anthropic: Biaya, Cloud, Risiko · Bisnis Otomotif ·