The Fed Tahan Suku Bunga, Dolar Kuat dan Rupiah Tekan

Redaksi Kabar Gas PolTerbit Diperbarui

Poin kunci

    Profesional bisnis yang terlibat dalam rapat kolaboratif di sekitar meja konferensi.
    Ilustrasi · Foto: Vlada Karpovich / Pexels

    Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%-4,00% pada rapat Oktober 2026 demi menjaga inflasi tetap terkendal. Keputusan ini memicu penguatan Dolar AS dan pelemahan Rupiah, serta memberikan dampak langsung pada sentimen pasar saham global termasuk IHSG. Ketua Fed Kevin Warsh menegaskan tidak ada target inflasi yang lunak meski aktivitas ekonomi masih kuat.

    JAKARTA, KABAR GAS POL — Federal Reserve (The Fed) resmi memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%-4,00% dalam pertemuan Oktober 2026.

    Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menjelaskan bahwa keputusan ini didasari oleh data ekonomi yang menunjukkan aktivitas bisnis dan pengeluaran konsumen lebih kuat dari perkiraan. Ia menegaskan bahwa inflasi tahunan utama AS masih berada di level 3,7% pada September, sehingga target stabilitas harga sebesar 2% belum tercapai. Warsh menekankan bahwa tidak ada target inflasi yang lunak dan suku bunga memengaruhi hampir segalanya dalam kebijakan moneter.

    Dampak langsung dari keputusan tersebut terlihat pada pergerakan mata uang dan pasar saham.

    Sektor teknologi menjadi pendorong utama penguatan ini, di mana saham Broadcom melonjak 4% setelah pengumuman pendanaan US$63 miliar untuk pembelian teknologi oleh Anthropic. Saham Micron Technology dan Advanced Micro Devices (AMD) juga mencatatkan kenaikan signifikan seiring penguatan saham produsen cip.

    Sementara itu, harga minyak global mengalami tekanan penurunan.

    Warsh juga menyoroti bahwa PDB kuartal ketiga kemungkinan berada di atas 3% dan investasi bisnis meningkat dengan laju dua digit. Ia menyatakan bahwa The Fed telah memperjelas kesiapan untuk bertindak sesuai tuntutan keadaan. Jed Ellerbroek dari Argent Capital Management mencatat bahwa investor sebelumnya khawatir terhadap belanja AI, namun kini saham teknologi kembali memimpin penguatan pasar.

    Analisis redaksi

    Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta

    Keputusan The Fed menahan suku bunga di level 3,75%-4,00% menciptakan dinamika ekonomi yang patut dicermati bagi pasar domestik. Penguatan Dolar AS ke level 102,122 secara langsung menekan nilai Rupiah yang melemah ke Rp18.145/US$. Hal ini menjadi pertanyaan bagi otoritas moneter lokal dalam menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

    Di sisi lain, penurunan IHSG sebesar 1,99% ke 5.266,13 menunjukkan sensitivitas pasar saham terhadap kebijakan moneter global. Meskipun indeks saham AS mencatatkan kenaikan, terutama di sektor teknologi, aliran dana asing dari pasar emerging seperti Indonesia dapat terjadi akibat perbedaan imbal hasil aset. Investor cenderung mencari keamanan atau imbal hasil lebih tinggi di aset berdenominasi dolar. Potensi dampak terhadap likuiditas pasar uang dan biaya pinjaman korporasi di Indonesia patut dipantau, mengingat imbal hasil SBN tenor 10 tahun yang stagnan di 7,454% mencerminkan ekspektasi pasar terhadap suku bunga domestik yang tetap tinggi dalam waktu dekat.

    Baca juga

    Terbaru