BCA Revisi Target Kredit 2026 Jadi 10-12 Persen, Laba 9M Capai Rp45,2 Triliun

Redaksi Kabar Gas PolTerbit Diperbarui

Poin kunci

    Berbagai uang kertas Euro dalam denominasi 10, 20, dan 100 di permukaan gelap, menyoroti mata uang Eropa.
    Ilustrasi · Foto: Markus Spiske / Pexels

    PT Bank Central Asia Tbk (BCA) merevisi proyeksi pertumbuhan kredit tahun 2026 menjadi 10–12 persen seiring meningkatnya permintaan pasar, setelah realisasi kredit per September 2026 tumbuh 12,6 persen secara tahunan. Kinerja keuangan bank ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp45,2 triliun pada sembilan bulan pertama tahun ini, yang menunjukkan pertumbuhan 4,2 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

    JAKARTA, KABAR GAS POL — PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengumumkan penyesuaian target pertumbuhan kredit untuk tahun 2026 ke kisaran 10–12 persen secara tahunan. Revisi ini dilakukan setelah bank mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp1.063 triliun hingga September 2026, yang tumbuh 12,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka pertumbuhan tersebut melampaui target awal yang ditetapkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 sebesar 8–10 persen.

    Kinerja keuangan BCA pada sembilan bulan pertama 2026 menunjukkan tren positif dengan laba bersih mencapai Rp45,2 triliun. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan 4,2 persen secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Laba bersih kuartal ketiga saja tercatat sebesar Rp15,7 triliun, yang berkontribusi signifikan terhadap akumulasi laba tahunan tersebut.

    Struktur kredit BCA menunjukkan dominasi pada segmen korporasi dan produktif. Kredit produktif mencapai Rp831 triliun dengan pertumbuhan 17,2 persen secara tahunan, sementara kredit korporasi tumbuh 20,9 persen menjadi Rp528,1 triliun. Di sisi lain, kredit usaha kecil dan menengah (UKM) mencatatkan pertumbuhan 15,4 persen menjadi Rp149,2 triliun, dan kredit komersial naik 7,8 persen menjadi Rp154,1 triliun.

    Kualitas aset bank tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat sebesar 1,79 persen hingga September 2026. Rasio loan at risk (LAR) juga berada di level 4,6 persen, yang mengindikasikan manajemen risiko yang ketat. Net Interest Margin (NIM) BCA per September 2026 tercatat sebesar 5,41 persen, dengan Net Interest Income kuartal ketiga mencapai Rp22,5 triliun.

    Peningkatan penyaluran kredit ini didorong oleh kenaikan permintaan dari pelaku bisnis. Hendra Lembong, Presiden Direktur BCA, menjelaskan bahwa permintaan kredit memang mengalami kenaikan, yang sejalan dengan peningkatan loan BCA hingga triwulan III 2026. John Kosasih, Wakil Presiden Direktur BCA, menambahkan bahwa fenomena ini berkaitan dengan seasonality di mana pelaku bisnis membutuhkan procurement dan production early untuk mengantisipasi kebutuhan operasional.

    Vera Eve Lim, Direktur BCA, menegaskan bahwa dalam sembilan bulan pertama, pertumbuhan kredit sekitar 12,6 persen, namun bank tidak merevisi Rencana Bisnis Bank (RBB) yang menetapkan target 8–10 persen. Namun, proyeksi akhir tahun tetap disesuaikan dengan dinamika pasar yang ada. BCA berkomitmen menyalurkan kredit ke beragam sektor untuk mendukung perekonomian nasional dengan senantiasa mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perseroan.

    Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) BCA juga meningkat 8 persen secara tahunan menjadi Rp1.301 triliun per September 2026.

    Di tengah ekspektasi pertumbuhan kredit industri perbankan Indonesia pada tahun 2026 dalam kisaran 8–12 persen oleh Bank Indonesia, performa BCA ini patut dicermati.

    Analisis redaksi

    Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta

    Revisi target pertumbuhan kredit BCA ke kisaran 10–12 persen mengindikasikan adanya perubahan dinamika permintaan kredit di pasar yang lebih agresif dibandingkan ekspektasi awal. Dengan realisasi kredit yang tumbuh 12,6 persen hingga September, bank tampaknya menyesuaikan proyeksi akhir tahun agar tetap relevan dengan kondisi lapangan.

    Dari sisi ekonomi, laba bersih Rp45,2 triliun dengan pertumbuhan 4,2 persen menunjukkan ketahanan margin bunga di tengah tekanan biaya dana. Net Interest Margin yang tercatat 5,41 persen masih berada di level yang sehat, meskipun tren NIM di perbankan nasional cenderung terkompresi. Peningkatan kredit produktif sebesar 17,2 persen menjadi sinyal positif bagi sektor riil, namun perlu dipantau apakah pertumbuhan kredit korporasi yang tumbuh 20,9 persen didorong oleh investasi baru atau refinancing. Kualitas aset yang terjaga dengan NPL gross 1,79 persen memberikan ruang bagi bank untuk terus menyalurkan kredit tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian. Potensi dampak kenaikan suku bunga acak Bank Indonesia ke depan dapat mempengaruhi biaya dana dan margin bank, sehingga manajemen likuiditas melalui pertumbuhan CASA 10,4 persen menjadi strategi krusial untuk menjaga stabilitas keuangan.

    Baca juga

    Terbaru