Hashim: Rupiah Bisa Rp22.000 jika Asing Kabur, Apa Dampaknya bagi BBM Impor?

Redaksi Kabar Gas PolTerbit Diperbarui

Poin kunci

  1. 1Hashim memperkirakan rupiah bisa mencapai Rp20.000 hingga Rp21.000 per dolar AS, sementara ada pihak yang menyebut Rp22.000.
  2. 2Rupiah di pasar spot ditutup pada Rp18.184 per dolar AS pada Rabu (28/10/2026).
  3. 3Hashim menyebut pelemahan rupiah akan membuat pinjaman luar negeri lebih mahal.
  4. 4Bank Indonesia menyatakan tugas utamanya menjaga stabilitas rupiah, yang juga dipengaruhi faktor di luar kendali otoritas domestik.
Sekelompok profesional multikultural yang terlibat dalam rapat bisnis di ruang konferensi modern.
Ilustrasi · Foto: Werner Pfennig / Pexels

Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia Hashim Djojohadikusumo memperingatkan rupiah dapat melemah ke kisaran Rp20.000 hingga Rp22.000 per dolar AS jika investor asing keluar dari bursa saham domestik. Peringatan itu ia sampaikan di Rapimnas Kadin, Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (29/10/2026), menyusul usulan MSCI menurunkan status pasar modal Indonesia. Gubernur Bank Indonesia menilai fundamental ekonomi nasional relatif baik.

JAKARTA, KABAR GAS POL — Hashim Djojohadikusumo, Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia, memperingatkan bahwa dolar AS dapat menyentuh Rp20.000 hingga Rp22.000 jika investor asing melakukan aksi jual di bursa saham domestik. Pernyataan itu disampaikan dalam Rapimnas Kadin di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Kamis (29/10/2026).

Pemicunya adalah usulan MSCI untuk mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Hashim menilai ancaman itu berkaitan dengan indikasi praktik perdagangan tidak sehat, termasuk saham gorengan.

"Saya sudah hitung bisa jadi Rp 20.000-Rp 21.000 per dolar AS. Ada yang bilang Rp 22.000." kata Hashim. Ia juga mengatakan rupiah yang lemah membuat Indonesia harus membayar pinjaman luar negeri lebih mahal.

"Jangan sampai rupiah jadi Rp 21.000, Rp 22.000. Ini jadi punya dampak politik yang luar biasa negatif," kata Hashim. Menurut dia, jika status Indonesia turun, banyak dana asing akan keluar karena terpaksa.

Hashim meminta pengusaha, terutama anggota Kadin, menghentikan praktik goreng saham. Ia mencontohkan Turkiye yang menangkap 94 pelaku praktik tersebut. Ia juga menyebut mendapat tugas dari Presiden Prabowo Subianto untuk membantu pemerintah memitigasi persoalan MSCI.

Di pasar, rupiah ditutup pada Rp18.184 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (28/10/2026). Pelemahan mingguannya tercatat sekitar 0,55%. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok 29,79% sepanjang kuartal III-2026.

Ia menegaskan tugas bank sentral adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. "Kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif oke dibandingkan dengan peer group kita," kata Destry Damayanti.

Destry juga menyebut keputusan The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga berdampak positif langsung pada penguatan rupiah. Selain suku bunga, BI memiliki insentif untuk menekan biaya hedging, kebijakan makroprudensial, dan SRBI.

Sepanjang Januari-September 2026, investor asing mencatatkan net inflow US$ 6,48 miliar ke SBN, saham, dan SRBI. Kepemilikan asing atas SBN per 30 September 2026 tercatat Rp 907,45 triliun, sekitar 13% dari total SBN beredar.

Analisis redaksi

Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta

Peringatan Hashim patut dicermati dari sisi harga BBM impor. Rupiah yang melemah membuat setiap dolar yang dibelanjakan untuk impor terasa lebih mahal. Jika kurs dan harga minyak bergerak searah, tekanan pada anggaran berpotensi bertambah, dan ini dapat menjadi pertanyaan bagi ruang subsidi serta harga BBM di dalam negeri.

Skenario Rp20.000 hingga Rp22.000 masih berupa proyeksi, dan rupiah kini berada di Rp18.184. Bank Indonesia menilai fundamental ekonomi relatif baik dan menegaskan upaya menjaga stabilitas. Hashim sendiri mengaitkan pelemahan rupiah dengan pinjaman luar negeri yang lebih mahal. Arah arus modal asing dan keputusan MSCI patut diikuti, karena keduanya berpotensi menentukan seberapa besar beban kurs yang akhirnya sampai ke harga energi.

Baca juga

Terbaru