Laba Astra di Luar Pos Nonberulang Rp24,6 Triliun hingga September, Turun Tipis; Laba Bersih Rp21,6 Triliun

Redaksi Kabar Gas PolTerbit Diperbarui

Poin kunci

  1. 1Laba bersih di luar pos nonberulang Rp24,6 triliun, dari Rp24,7 triliun pada periode sama 2025.
  2. 2Laba bersih setelah pos nonberulang Rp21,6 triliun, turun 12 persen.
  3. 3Laba bisnis otomotif naik 8 persen menjadi Rp9,8 triliun.
  4. 4Laba jasa keuangan naik 6 persen menjadi Rp7,2 triliun, dengan pembiayaan baru Rp92,5 triliun.
  5. 5Penjualan mobil nasional naik 21 persen menjadi 679.000 unit.
Tampilan mendetail dari uang kertas 5 dan 20 euro yang memperlihatkan desain mata uang Eropa.
Ilustrasi · Foto: Lukasz Radziejewski / Pexels

PT Astra International Tbk mencatat laba bersih di luar pos nonberulang Rp24,6 triliun pada Januari-September 2026, turun sekitar 1 persen. Setelah pos nonberulang, laba bersih Rp21,6 triliun, turun 12 persen. Laba otomotif naik 8 persen dan jasa keuangan naik 6 persen.

JAKARTA, KABAR GAS POL — Astra membukukan laba bersih Rp24,6 triliun di luar pos nonberulang untuk periode Januari-September 2026. Capaian itu sedikit di bawah Rp24,7 triliun pada sembilan bulan pertama 2025, atau turun sekitar 1 persen.

Pendapatan bersih konsolidasian berada di Rp243,9 triliun, nyaris sama dengan Rp243,6 triliun setahun sebelumnya. Laporan keuangan tersebut dirilis pada Rabu, 28 Oktober 2026.

Bila pos nonberulang dihitung, laba bersih perseroan menjadi Rp21,6 triliun atau turun 12 persen secara tahunan. Penyebab utamanya adalah penurunan nilai dan penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas.

Laba bersih per saham di luar pos tersebut naik 1 persen ke Rp616, sedangkan dengan pos itu turun 11 persen menjadi Rp541.

"Astra mencatat kinerja yang resilien selama sembilan bulan pertama tahun 2026," kata Rudy, Presiden Direktur Astra.

Bisnis otomotif tetap menjadi kontributor laba terbesar. Labanya naik 8 persen menjadi Rp9,8 triliun dari Rp9 triliun. Bisnis komponen kendaraan menyumbang Rp1,4 triliun, naik 15 persen.

Di jasa keuangan, laba bersih bertambah 6 persen menjadi Rp7,2 triliun. Nilai pembiayaan baru Grup Astra naik 8 persen ke Rp92,5 triliun, dan piutang pembiayaan bersih mencapai Rp132 triliun, naik 6 persen dari akhir Desember 2025.

Penjualan mobil nasional tumbuh 21 persen menjadi 679.000 unit. Penjualan mobil Grup Astra naik 13 persen, dengan pangsa pasar 49 persen.

Untuk sepeda motor, penjualan nasional naik 4 persen ke sekitar 5 juta unit. Penjualan Honda meningkat 3 persen dengan pangsa pasar 77 persen.

Kinerja kuartal III disebut membaik berkat bertambahnya volume kontrak pertambangan, beroperasinya kembali tambang emas Martabe, dan bisnis otomotif. Meski begitu, bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat masih menghadapi kondisi menantang.

Analisis redaksi

Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta

Kenaikan penjualan mobil nasional 21 persen dan pembiayaan baru Rp92,5 triliun dapat menunjukkan permintaan kendaraan yang masih terjaga.

Pendapatan yang relatif stabil di tengah laba otomotif yang naik memunculkan pertanyaan tentang kontribusi segmen lain, terutama pertambangan dan alat berat yang masih menantang. Penurunan 12 persen pada laba setelah pos nonberulang dapat berarti hasil akhir perseroan masih dipengaruhi nilai investasi, bukan hanya operasi inti.

  • Astra International
  • laba bersih
  • laporan keuangan
  • otomotif
  • jasa keuangan

Baca juga

Terbaru