Laba DEWA Diproyeksi Melonjak 142,6% pada 2027, Apa Artinya bagi Biaya Logistik Otomotif?

Redaksi Kabar Gas PolTerbit Diperbarui

Poin kunci

  1. 1Laba bersih DEWA diproyeksikan tumbuh 142,6% menjadi Rp 1,64 triliun pada 2027, dibandingkan estimasi 2026 sebesar Rp 676 miliar.
  2. 2EBITDA kuartal III-2026 naik 27,5% secara kuartalan menjadi Rp 626 miliar, dengan margin 33% dari 29,6% pada kuartal sebelumnya.
  3. 3Proyek Sebuku berjalan sejak Agustus 2026 dan ditargetkan memindahkan 30 juta hingga 35 juta bcm lapisan penutup pada 2027.
  4. 4DEWA berencana menerbitkan Sukuk Wakalah maksimal Rp 3,5 triliun, dengan tahap awal Rp 1,5 triliun ditargetkan pada Desember 2026.
Tampilan atas berbagai grafik bisnis dan pensil warna di atas meja kayu, menyoroti analisis keuangan.
Ilustrasi · Foto: RDNE Stock project / Pexels

Analis BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan laba bersih PT Darma Henwa Tbk (DEWA) naik 142,6% menjadi Rp 1,64 triliun pada 2027 dari estimasi Rp 676 miliar pada 2026. Proyeksi itu bertumpu pada kinerja kuartal III-2026, ekspansi proyek Sebuku, dan rencana penerbitan sukuk hingga Rp 3,5 triliun. Bahan yang tersedia tidak memuat data biaya logistik otomotif, sehingga kaitannya dengan sektor itu hanya dapat dibaca sebagai tafsir.

JAKARTA, KABAR GAS POL — Analis BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) membukukan laba bersih Rp 1,64 triliun pada 2027. Angka itu 142,6% lebih tinggi daripada estimasi laba 2026 sebesar Rp 676 miliar.

Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) diperkirakan naik 86,4% ke level Rp 4,04 triliun, dari Rp 2,17 triliun pada 2026.

Di level operasional, EBITDA kuartal III-2026 tumbuh 27,5% secara kuartalan hingga Rp 626 miliar. Margin EBITDA naik menjadi 33% dari 29,6% pada kuartal II.

Pertumbuhan laba operasional itu lebih cepat daripada pendapatan, yang naik 14,4% secara kuartalan. Kenaikan pendapatan tersebut didorong kontribusi armada di Bengalon dan cuaca yang bersahabat.

Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, EBITDA DEWA mencapai Rp 1,56 triliun atau naik 30,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perusahaan juga telah memindahkan seluruh material di tambang Bengalon dengan armada sendiri.

Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai peralihan ke alat berat milik sendiri turut mengerek profitabilitas. "Strategi penggunaan armada alat berat milik sendiri berhasil meningkatkan profitabilitas DEWA," kata Erindra dan Taufan.

Proyek Sebuku beroperasi sejak Agustus 2026 dan, menurut Erindra Krisnawan, berjalan sesuai jadwal. Untuk 2026, target pemindahan material di lokasi itu berkisar 8 juta hingga 10 juta bank cubic meter (bcm). Manajemen mematok 30 juta hingga 35 juta bcm untuk 2027.

Ekspansi lebih jauh bergantung pada kontrak baru. Dalam skenario optimistis, kontrak tambahan dapat menambah pergerakan material hingga 61,4 juta bcm per tahun.

Skenario itu berpotensi menaikkan pendapatan 2027 sebesar 25,6% atau Rp 3,02 triliun. Laba bersih berpotensi bertambah Rp 896 miliar, setara kenaikan 54,5%. "Dalam skenario optimistis, keberhasilan memperoleh kontrak baru berpotensi meningkatkan pendapatan 2027 sebesar 25,6%, EBITDA 32,8%, dan laba bersih disesuaikan 54,5% dibandingkan skenario dasar," kata Erindra.

Untuk membiayai ekspansi, DEWA menyiapkan penerbitan Sukuk Wakalah senilai maksimal Rp 3,5 triliun. Tahap awal ditargetkan Rp 1,5 triliun pada Desember 2026, setara sekitar 46% dari proyeksi belanja modal 2027.

Menurut Erindra, dana tersebut diharapkan mendukung belanja modal dan modal kerja. "Hasil penerbitan diharapkan dapat mendukung kebutuhan belanja modal dan modal kerja, memberikan tambahan fleksibilitas pendanaan untuk mobilisasi proyek dan potensi memenangkan tender," ujarnya.

Sementara itu, salah satu laporan menyebut DEWA memacu ekspansi tambang dan memproyeksikan kenaikan laba.

Analisis redaksi

Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta

Dari sisi ekonomi, proyeksi ini menunjukkan bahwa kenaikan laba DEWA bertumpu pada efisiensi operasional, bukan semata kenaikan pendapatan. Pertumbuhan EBITDA kuartal III yang melampaui pertumbuhan pendapatan, bersama margin yang naik ke 33%, dapat dibaca sebagai tanda strategi armada sendiri mulai menurunkan beban per unit pekerjaan. Bila pola itu bertahan saat volume di Sebuku naik, skala usaha berpotensi menguat tanpa tekanan margin.

Kaitannya dengan harga BBM, pajak kendaraan, dan biaya logistik sektor otomotif perlu dibaca hati-hati. Bahan yang tersedia tidak memuat angka konsumsi solar, harga BBM, tarif pajak kendaraan, maupun ongkos angkut industri otomotif, sehingga tidak ada hubungan langsung yang dapat dibuktikan. Yang dapat dikatakan, ekspansi armada alat berat dengan belanja modal besar, yang tahap awal pendanaannya disiapkan lewat sukuk Rp 1,5 triliun, berpotensi membuat kinerja perusahaan peka terhadap biaya operasional, termasuk bahan bakar. Apakah hal itu merambat ke biaya logistik sektor lain menjadi pertanyaan yang patut dicermati, dan jawabannya baru bisa dinilai bila data pendukung tersedia. Perlu diingat pula bahwa angka 2027 adalah proyeksi analis, dan skenario optimistis bergantung pada keberhasilan memperoleh kontrak baru.

  • Darma Henwa
  • DEWA
  • BRI Danareksa Sekuritas
  • Proyek Sebuku
  • Sukuk

Baca juga

Terbaru