Laba PTBA Rp4,41 Triliun Naik 216%, Ditopang Harga; Ekspor Satu Pintu 2027 Disambut
Poin kunci
- 1Laba bersih PTBA hingga kuartal III-2026 mencapai Rp4,41 triliun, dari Rp1,39 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
- 2Harga jual rata-rata batu bara PTBA naik 18 persen secara tahunan, sementara volume penjualan turun 4 persen menjadi 32,23 juta ton.
- 3Penjualan domestik tercatat 16,62 juta ton, lebih rendah daripada 18,82 juta ton setahun sebelumnya, sedangkan ekspor naik ke 15,61 juta ton.
- 4Laba bersih kuartal III-2026 saja sekitar Rp1,8 triliun, turun 5 persen dari kuartal II namun naik 214 persen secara tahunan.
- 5PTBA mendukung mekanisme ekspor batu bara satu pintu yang direncanakan berlaku pada 2027 dan meminta kejelasan petunjuk teknis.

PT Bukit Asam (PTBA) membukukan laba bersih Rp4,41 triliun untuk sembilan bulan pertama 2026, jauh di atas Rp1,39 triliun setahun sebelumnya. Lonjakan ditopang kenaikan harga jual rata-rata batu bara, sementara volume penjualan menyusut. PTBA juga menyatakan dukungan atas rencana ekspor batu bara satu pintu yang direncanakan berlaku pada 2027.
JAKARTA, KABAR GAS POL — PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mencatat laba bersih Rp4,41 triliun untuk periode hingga kuartal III-2026, melonjak dari Rp1,39 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikannya 216,4 persen secara tahunan, menurut laporan keuangan yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia pada Kamis (29/10/2026).
Pendapatan usaha ikut tumbuh 12,4 persen menjadi Rp35,20 triliun, dari Rp31,33 triliun. Laba kotor naik dari Rp3,57 triliun ke Rp7,27 triliun, sedangkan laba usaha naik dari Rp1,60 triliun menjadi Rp5,11 triliun.
Pendorong utamanya adalah harga. Harga jual rata-rata batu bara PTBA naik 18 persen secara tahunan, sejalan dengan indeks Newcastle yang menguat 25 persen dan ICI-3 yang naik 26 persen. Volume penjualan justru turun 4 persen menjadi 32,23 juta ton dari 33,70 juta ton.
Komposisi pasar bergeser. Penjualan di dalam negeri tercatat 16,62 juta ton, lebih kecil dibanding 18,82 juta ton setahun sebelumnya, sementara pengiriman ke luar negeri bertambah dari 14,88 juta ton ke 15,61 juta ton. Porsi domestik kini sekitar 52 persen dan ekspor sekitar 48 persen. Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand menjadi lima tujuan ekspor terbesar.
Dari sisi biaya, beban pokok pendapatan hanya naik sekitar 0,6 persen menjadi Rp27,94 triliun, meski harga bahan bakar naik 36 persen secara tahunan. Stripping ratio turun dari 5,98x menjadi 5,59x. Beban umum dan administrasi naik 12,66 persen menjadi Rp1,70 triliun.
Potret kuartalan lebih moderat. Laba bersih kuartal III-2026 sekitar Rp1,8 triliun, turun 5 persen dari kuartal II karena beban pajak yang bertambah, tetapi tetap naik 214 persen secara tahunan. Harga jual rata-rata kuartal ini sekitar Rp1,2 juta per ton, naik 7 persen dari kuartal sebelumnya dengan laju yang melandai.
"Di tengah dinamika industri batu bara dan tantangan operasional sepanjang tahun 2026, PTBA berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal III 2026," kata Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan.
Di luar angka laporan, PTBA menyatakan dukungan atas mekanisme ekspor batu bara satu pintu yang direncanakan berlaku pada 2027. Perusahaan menilai petunjuk teknis dan prosedur operasional yang jelas diperlukan agar masa transisi berjalan lancar.
Sebagai persiapan, PTBA sedang menyelaraskan pelaporan elektronik dengan sistem kepabeanan dan platform DSI. Kejelasan prosedur dan ketentuan kontrak ekspor dinilai penting untuk menjaga kesinambungan pengiriman serta perencanaan bisnis.
Saham PTBA ditutup di Rp3.060 pada Kamis (29/10).
Analisis redaksi
Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta
Bahan memperlihatkan dua cerita yang berjalan beriringan. Laba melonjak terutama karena harga, bukan volume: harga jual rata-rata naik 18 persen sementara tonase turun 4 persen, dan biaya pokok nyaris datar meski bahan bakar menjadi lebih mahal. Pola ini berpotensi membuat kinerja PTBA sangat bergantung pada arah indeks Newcastle dan ICI-3. Tanda awalnya dapat dibaca dari kenaikan harga kuartal III yang melandai ke 7 persen secara kuartalan.
Bergesernya porsi penjualan ke ekspor, di tengah turunnya penjualan domestik dari 18,82 juta ton ke 16,62 juta ton, membuat rencana ekspor satu pintu 2027 menjadi relevan bagi perusahaan. Bahan tidak menjelaskan rinci isi aturan tersebut, sehingga dampaknya terhadap margin atau alur kontrak PTBA masih menjadi pertanyaan. Permintaan PTBA akan petunjuk teknis yang jelas dan penyelarasan sistem pelaporan dapat dibaca sebagai sinyal bahwa transisi ini patut dicermati, terutama karena hampir separuh volume penjualan perusahaan kini mengalir ke pasar ekspor.
- PT Bukit Asam
- PTBA
- Laba Bersih
- Ekspor Batu Bara Satu Pintu
Baca juga
BCA Revisi Target Kredit 2026 Jadi 10-12 Persen, Laba 9M Capai Rp45,2 Triliun
28 Okt 2026, 14.09Bisnis OtomotifLaba Astra Q3 2026 Turun 12% ke Rp21,6 T, Didorong Item Non-Recurring
29 Okt 2026, 06.05Bisnis OtomotifMKNT Bebas Suspend, Laba Menguat 1.090 Persen, Saham Kembali Berdagang Reguler
26 Okt 2026, 08.35Bisnis OtomotifBank Mandiri Bagikan Dividen Rp50,63 Triliun, CAR Tetap 18,4 Persen
26 Okt 2026, 06.34Terbaru
- Menperin Kaji Pengecualian Ganjil Genap Mobil Listrik, Pemilik BEV Jakarta Menunggu · Kebijakan ·
- IMOS 2026 Diikuti 15 Merek Motor, Sepuluh di Antaranya Bukan Anggota AISI · Mobil ·
- VW Tour Satukan Tanah Lot dan Jatiluwih dalam Satu Rute di Tabanan · Mobil ·
- Bahlil: 30 Perusahaan Cangkang Tak Lagi Bisa Impor BBM, Bagaimana Harganya? · Bisnis Otomotif ·
- Kurir dan Ojol Jadi Sasaran Pertama Motor Listrik 2027, Bagaimana Syaratnya? · Kebijakan ·
- Tiga Pertanyaan yang Tersisa dari Prospektus IPO Anthropic: Biaya, Cloud, Risiko · Bisnis Otomotif ·