Honda: Tarif 50% atas Otomotif Kanada Akan Katastropik bagi Industri Regional

Redaksi Kabar Gas PolTerbit Diperbarui

Poin kunci

  1. 1Honda memperingatkan skenario katastrofik bagi industri otomotif bila AS dan Kanada tak mencapai kesepakatan dagang baru pada akhir tahun.
  2. 2Trump mengancam menggandakan tarif kendaraan dan suku cadang Kanada dari 25% menjadi 50% mulai 1 Januari.
  3. 3Honda adalah produsen kendaraan terbesar kedua di Kanada setelah Toyota, dan pabrik perakitan di AS membuat lebih dari 60% kendaraan yang dijualnya di sana.
  4. 4Jepang dan Korea Selatan memperoleh tarif 15% untuk kendaraan dalam kesepakatan dengan pemerintahan Trump.
  5. 5Thomas menyatakan optimisme hati-hati setelah muncul kabar kedua pemerintah kembali ke meja perundingan.
Kumpulan profesional bisnis yang beragam dalam pertemuan strategis membahas dokumen dan grafik.
Ilustrasi · Foto: Vlada Karpovich / Pexels

Eksekutif American Honda, Jennifer Thomas, memperingatkan bahwa kenaikan tarif kendaraan dan suku cadang Kanada menjadi 50% akan berdampak katastropik bagi seluruh industri otomotif. Peringatan itu ia sampaikan dalam konferensi otomotif Reuters di Detroit, Amerika Serikat, menjelang tenggat 1 Januari yang diancamkan Presiden Donald Trump bila tak ada kesepakatan dagang AS-Kanada.

JAKARTA, KABAR GAS POL — Produsen otomotif Jepang, Honda, memperingatkan bahwa kenaikan tarif atas kendaraan dan suku cadang asal Kanada menjadi 50% akan membawa dampak katastropik bagi industri. Skenario itu disebut bakal terjadi bila Amerika Serikat dan Kanada gagal mencapai kesepakatan perdagangan baru hingga akhir tahun.

Peringatan tersebut disampaikan Jennifer Thomas, senior vice president urusan korporasi American Honda Motor Co., dalam konferensi otomotif Reuters di Detroit. "Itu benar-benar akan menjadi bencana bagi seluruh industri," kata Thomas.

Latar persoalannya adalah ancaman Presiden Donald Trump. Tarif atas kendaraan dan suku cadang Kanada, yang kini 25%, akan dinaikkan menjadi 50% pada 1 Januari bila kesepakatan tak tercapai. Ancaman itu dilontarkan sejak Agustus, setelah perundingan dagang kedua negara buntu.

Honda berada di posisi yang rentan karena menjadi produsen terbesar kedua di Kanada, di bawah Toyota Motor. Di sisi lain, pabrik perakitannya di AS membuat lebih dari 60% kendaraan yang dijual perusahaan itu di pasar Amerika.

Thomas menegaskan sikap Honda dan asosiasi dagang yang mewakilinya. "Pesan kami jelas: Kami membutuhkan perjanjian trilateral tersebut untuk tetap berlaku agar industri AS dapat bersaing," kata Thomas. Menurut Thomas, hasil terbaik adalah memasukkan Meksiko ke dalam pakta sehingga menjadi kesepakatan tiga negara berbasis Perjanjian AS-Meksiko-Kanada (USMCA).

Asosiasi perdagangan yang mewakili Honda dan pembuat mobil besar lain di AS selama ini melobi kesepakatan tiga negara dan menentang kesepakatan hanya antara dua negara. Perwakilan Perdagangan AS, Jamieson Greer, menyatakan Washington menolak memperbarui USMCA secara otomatis, sehingga perjanjian itu masuk ke tinjauan tahunan.

Thomas juga menyinggung perlakuan berbeda terhadap negara lain. Pemerintahan Trump telah merundingkan kesepakatan dengan Jepang dan Korea Selatan yang memasang tarif 15% atas kendaraan. "Saya tidak pernah mengira akan melihat kawasan Amerika Utara ditempatkan dalam posisi yang tidak menguntungkan seperti ini," kata Thomas.

Meski demikian, Thomas menyatakan optimisme hati-hati bahwa kenaikan tarif dapat dihindari, setelah ada kabar kedua pemerintah kembali ke meja perundingan.

Analisis redaksi

Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta

Dari kacamata ekonomi, selisih tarif menjadi inti keluhan Honda. Tarif 15% atas kendaraan dari Jepang dan Korea Selatan, dibandingkan 25% yang kini berlaku untuk Kanada dan ancaman 50% pada 1 Januari, menunjukkan bahwa mitra dagang yang selama ini terintegrasi dalam rantai pasok Amerika Utara dapat diperlakukan lebih berat daripada pengekspor dari luar kawasan. Hal itu agaknya menjelaskan pernyataan Thomas bahwa kawasan Amerika Utara ditempatkan dalam posisi yang tidak menguntungkan. Kenaikan tarif berlipat atas komponen dan kendaraan berpotensi menekan biaya produksi, dan beban itu dapat berujung pada harga jual kendaraan yang lebih tinggi bagi konsumen.

Bagi pembaca Indonesia, bahan ini tidak memuat dampak langsung terhadap harga BBM maupun pajak kendaraan di dalam negeri, sehingga kaitannya patut dicermati dengan hati-hati. Konteks yang tersedia hanya menunjukkan bahwa kebijakan tarif di Amerika Utara berpotensi menggeser kalkulasi biaya dan lokasi produksi produsen global, termasuk merek Jepang yang juga dikenal di pasar Indonesia. Apakah pergeseran itu merambat ke harga kendaraan di tanah air masih menjadi pertanyaan, karena bergantung pada hasil perundingan AS-Kanada menjelang tenggat 1 Januari dan nasib tinjauan tahunan USMCA.

  • Honda
  • Kanada
  • Jennifer Thomas

Baca juga

Terbaru