Hormuz Diakali, Minyak Tetap Mengalir: Siapa yang Menanggung Biaya Logistik?
Poin kunci
- 1Aliran minyak dari Timur Tengah rata-rata lebih dari 24 juta barel per hari hingga 18 Oktober 2026, di atas rata-rata sebelum perang sebesar 23,3 juta barel per hari.
- 2Tarif supertanker mendekati rekor di sekitar 37,37 dolar AS per barel, sementara premi asuransi risiko perang mencapai kisaran 10 persen dari nilai kapal.
- 3Brent ditutup di atas US$113 per barel dan telah melonjak lebih dari 85 persen sepanjang tahun ini.
- 4Rupiah melemah 14 poin ke Rp18.074 per dolar AS, dan kepemilikan asing di obligasi pemerintah berkurang Rp3,66 triliun.
- 5Saudi Aramco memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran setelah serangan Houthi.

Pelayaran minyak dari Timur Tengah kembali ke level sebelum perang karena kapal mencari jalur alternatif di luar Selat Hormuz, tetapi ongkos angkut dan asuransi ikut melonjak. Brent bertengger di kisaran US$113 per barel pada 22–23 Oktober 2026 setelah serangan Houthi meluas ke Arab Saudi. Bagi Indonesia, tekanan harga energi bertemu rupiah yang melemah ke Rp18.074 per dolar AS.
JAKARTA, KABAR GAS POL — Blokade Selat Hormuz ternyata tidak menghentikan arus minyak Timur Tengah, tetapi membuat ongkos memindahkannya jauh lebih mahal. Hingga 18 Oktober 2026, aliran minyak dari kawasan itu rata-rata menembus 24 juta barel per hari, melampaui rata-rata ekspor sebelum perang yang tercatat 23,3 juta barel per hari.
Beban yang tadinya berupa kelangkaan pasokan kini bergeser menjadi beban biaya. Kepala tim strategi komoditas global JPMorgan, Natasha Kaneva, menggambarkan perubahan itu. "Dulu pada April, masalahnya adalah kekurangan minyak mentah. Pada Oktober, masalahnya adalah biaya untuk memindahkannya," kata Natasha Kaneva.
Volume yang lewat Selat Hormuz sendiri hanya sekitar 14 juta barel per hari. Pada September, sekitar 40 persen minyak mentah non-Iran dikirim lewat jalur di luar selat tersebut. Pelayaran memutar itu dilakukan di bawah ancaman: sekitar 30 serangan terhadap kapal dilaporkan sepanjang Oktober.
Risiko itu langsung masuk ke tarif. Kapal supertanker kini dikenai ongkos angkut sekitar 37,37 dollar AS per barel, hampir menyamai rekor. Pemilik kapal juga harus menanggung asuransi risiko perang yang menanjak hingga sekitar 10 persen dari nilai armada.
Para pedagang tetap berani berlayar karena selisih keuntungannya besar. Penjualan kembali minyak Irak dapat memberi tambahan sekitar 20 dollar AS per barel. "Volume tetap tinggi meski serangan meningkat karena keuntungan membuat risiko tersebut sepadan," kata Homayoun Falakshahi, kepala analisis minyak mentah Kpler.
Serangan Houthi pada Rabu (21/10) menyasar Bandara Internasional King Fahd di Dammam dan menewaskan dua orang serta melukai delapan lainnya. Kelompok itu juga mengaku menyerang fasilitas Aramco di Yanbu, ladang Shaybah, serta bandara di Riyadh dan Abha.
Data Kpler mencatat setidaknya 18 serangan terhadap kapal tanker dalam dua pekan terakhir.
Aramco merespons dengan menyuruh karyawan meninggalkan kantor pusat di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh. Indeks acuan bursa Arab Saudi, TASI, turun 2,5 persen pada perdagangan Kamis.
Pasar bereaksi tajam. Pada penutupan Kamis (22/10), Brent naik US$ 4,35 atau 4 persen ke US$ 113,17 per barel, sedangkan WTI naik US$ 2,32 ke US$ 99,47. Level itu menjadi yang tertinggi dalam lima bulan. Sehari sebelumnya, Brent masih ditutup di US$ 108,82 per barel.
Pada Jumat (23/10) pagi, Brent sedikit terkoreksi 21 sen ke US$ 112,96 per barel dan WTI turun 27 sen ke US$ 98,12. Sepanjang tahun ini, Brent telah naik lebih dari 85 persen akibat perang antara AS dan Iran.
Gangguan pasokan tidak hanya datang dari Teluk. Di Libya, katup pipa dari ladang Hamada dan Tahara menuju pelabuhan Zawiya ditutup sehingga produksi di dua ladang itu dikurangi. Di pasar Amerika, stok minyak mentah AS menyusut 3,06 juta barel menjadi 412,5 juta barel pekan lalu.
Ada juga sinyal penahan. Presiden Rusia Vladimir Putin disebut setuju melanjutkan pembicaraan damai dengan Ukraina paling cepat bulan depan. Pelonggaran sanksi AS terhadap ekspor energi Rusia juga dibicarakan sebagai faktor yang berpotensi menambah pasokan global.
Di dalam negeri, rupiah ditransaksikan pada Rp18.074 per dolar AS, melemah 14 poin dari penutupan sebelumnya di Rp18.060. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengaitkan lonjakan harga minyak dengan pernyataan Houthi soal serangan ke infrastruktur Saudi. Kepemilikan asing di obligasi pemerintah turun Rp3,66 triliun menjadi Rp914 triliun per Rabu (21/10).
Sementara itu, produsen kilang justru menikmati situasi ini. Valero Energy membukukan laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarah pada kuartal III-2026.
Analisis redaksi
Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta
Temuan paling relevan dari bahan ini adalah pergeseran sumber masalah, dari ketersediaan barang ke ongkos pengirimannya. Tarif supertanker mendekati rekor dan premi asuransi perang menyentuh sekitar 10 persen nilai kapal. Bila pola biaya semacam itu melekat pada pelayaran yang melewati kawasan rawan, kapal pengangkut kendaraan impor berpotensi menghadapi komponen serupa. Namun bahan yang tersedia tidak memuat data tarif angkut kendaraan, sehingga hubungan ini sebatas tafsir redaksi dan patut diuji dengan angka yang spesifik.
Jalur yang lebih tampak adalah lewat nilai tukar dan harga energi. Rupiah di Rp18.074 per dolar AS berarti setiap komponen impor yang dibayar dengan dolar menjadi lebih mahal, sementara Brent di atas US$113 mengerek ongkos bahan bakar. Menjadi pertanyaan apakah tekanan ini akan terus diserap pelaku usaha atau akhirnya sampai ke harga BBM dan pajak kendaraan. Bahan tidak menyebut keputusan pemerintah soal harga BBM maupun pajak kendaraan. Karena itu, kedua isu tersebut perlu dipantau sebagai kemungkinan, bukan sebagai kepastian. Sinyal pelonggaran dari pembicaraan damai Rusia-Ukraina dan wacana pelonggaran sanksi energi Rusia dapat meredam tekanan itu, tetapi arahnya masih bergantung pada perkembangan di Teluk.
- Selat Hormuz
- Houthi
- Arab Saudi
- Timur Tengah
- Harga Minyak
Baca juga
Brent Tembus $116, Berapa Beban Biaya Operasional Kendaraan di Indonesia?
24 Okt 2026, 07.34Bisnis OtomotifBrent Tembus $116, Wall Street Tertekan: Seberapa Jauh Imbasnya ke Biaya Kendaraan?
25 Okt 2026, 07.09Bisnis OtomotifRupiah Tembus Rp18.100 per Dolar AS, Apa Dampaknya bagi Biaya Otomotif?
27 Okt 2026, 14.34Bisnis OtomotifMaskapai AS Pertahankan Tarif demi Laba, Faktor Beban American Turun ke 83,4%
25 Okt 2026, 17.03Terbaru
- Menperin Kaji Pengecualian Ganjil Genap Mobil Listrik, Pemilik BEV Jakarta Menunggu · Kebijakan ·
- IMOS 2026 Diikuti 15 Merek Motor, Sepuluh di Antaranya Bukan Anggota AISI · Mobil ·
- VW Tour Satukan Tanah Lot dan Jatiluwih dalam Satu Rute di Tabanan · Mobil ·
- Bahlil: 30 Perusahaan Cangkang Tak Lagi Bisa Impor BBM, Bagaimana Harganya? · Bisnis Otomotif ·
- Kurir dan Ojol Jadi Sasaran Pertama Motor Listrik 2027, Bagaimana Syaratnya? · Kebijakan ·
- Tiga Pertanyaan yang Tersisa dari Prospektus IPO Anthropic: Biaya, Cloud, Risiko · Bisnis Otomotif ·