Survei Populix: Satu dari Lima Konsumen Muda Menengah Atas Tertarik Mobil Listrik atau Hybrid

Redaksi Kabar Gas PolTerbit Diperbarui

Poin kunci

  1. 1Satu dari lima responden tertarik memiliki mobil listrik atau hybrid, terutama kelompok usia 25-35 tahun.
  2. 2Sebanyak 12 persen responden memilih mobil listrik murni (BEV) dan 8 persen memilih hybrid.
  3. 3Rata-rata anggaran pembelian mobil baru mencapai Rp493 juta.
  4. 4Enam dari sepuluh calon pembeli dalam setahun ke depan menyiapkan mobil tambahan, bukan pengganti.
  5. 5Kekhawatiran soal infrastruktur pengisian daya berkurang dibandingkan studi tahun lalu.
Diambil dari atas, sebuah mobil melaju di jalanan yang dipenuhi pepohonan di Santiago, Chili, selama musim gugur.
Ilustrasi · Foto: Cláudio Castro / Pexels

Survei Populix terhadap 800 pemilik mobil pribadi menemukan satu dari lima responden berminat memiliki mobil listrik maupun hybrid, terutama milenial muda dan Gen Z berusia 25-35 tahun. Mobil bermesin konvensional masih mendominasi pilihan konsumen.

JAKARTA, KABAR GAS POL — Minat terhadap mobil listrik dan hybrid mulai tampak di kalangan konsumen muda kelas menengah atas. Survei Populix menunjukkan satu dari lima responden tertarik memilikinya, dengan porsi terbesar berasal dari milenial muda dan Gen Z berusia 25-35 tahun.

Studi itu menyasar 800 pemilik mobil pribadi kelas menengah atas yang membeli kendaraan dalam lima tahun terakhir. Responden berusia 25-45 tahun, dan studi memetakan persepsi mereka terhadap delapan merek otomotif.

Meski minat pada kendaraan elektrifikasi tumbuh, mobil konvensional tetap memegang pasar. "Mobil konvensional saat ini masih mendominasi pasar, meskipun mobil listrik mulai mendapatkan momentum," kata Susan Adi Putra, Associate Research Director Populix.

Dalam rincian pilihan, 12 persen responden memilih mobil listrik murni (BEV), sedangkan hybrid dipilih 8 persen. Adapun mobil berbahan bakar bensin menjadi pilihan 80 persen responden.

Sekitar seperempat responden mengaku sangat berminat membeli mobil listrik. Merek yang menarik perhatian mereka adalah BYD, Hyundai, dan Wuling.

"Perubahan ini menunjukkan bahwa penerimaan terhadap kendaraan elektrifikasi mulai berkembang di kalangan konsumen menengah atas," kata Susan Adi Putra.

Kekhawatiran terhadap infrastruktur pengisian mobil listrik kini lebih rendah dibanding studi Populix tahun lalu, ketika isu itu masih menjadi pertimbangan penting.

Delapan merek yang dipetakan studi ini adalah BYD, Daihatsu, Honda, Hyundai, Mitsubishi, Suzuki, Toyota, dan Wuling. BYD diasosiasikan dengan inovasi dan teknologi, Daihatsu dengan layanan purnajual, sedangkan Honda dan Toyota dengan nilai jual kembali yang tinggi.

Hyundai dikaitkan dengan paket lengkap keamanan, kenyamanan, fitur, dan kemudahan penggunaan. Mitsubishi lekat dengan kualitas dan kenyamanan berkendara, Suzuki dengan garansi dan perawatan, dan Wuling dipandang sebagai pionir kendaraan listrik di Indonesia.

Dari sisi dana, rata-rata anggaran yang disiapkan untuk membeli mobil baru mencapai Rp493 juta.

Enam dari sepuluh responden yang berencana membeli mobil dalam setahun ke depan menyebut kendaraan itu akan menjadi unit tambahan, bukan pengganti.

Jenis kendaraan yang paling diminati masih MPV dan SUV. "Berdasarkan jenis kendaraan, MPV (Multi-Purpose Vehicle) dan SUV (Sport Utility Vehicle) masih menjadi pilihan utama," kata Susan.

Mobil pribadi umumnya dipakai untuk bekerja, hingga enam hari dalam sepekan, dengan jarak tempuh rata-rata 17,6 kilometer per hari.

Data Gaikindo menunjukkan penjualan mobil wholesales (dari pabrik ke dealer) naik 21 persen sepanjang Januari-September 2026. Penjualan ritel dari dealer ke konsumen meningkat 15,4 persen dibanding periode sebelumnya.

Analisis redaksi

Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta

Temuan survei ini dapat dibaca sebagai tanda bahwa mobil listrik dan hybrid mulai masuk daftar pertimbangan konsumen muda berdaya beli tinggi, tetapi belum menggeser kebiasaan lama. Angka 12 persen untuk BEV dan 8 persen untuk hybrid berdampingan dengan 80 persen responden yang memilih bensin. Gambaran itu berpotensi menunjukkan bahwa elektrifikasi masih berada di tahap awal, sejalan dengan pernyataan bahwa mobil konvensional masih mendominasi sementara mobil listrik baru mendapat momentum.

Berkurangnya kekhawatiran soal infrastruktur pengisian daya dibanding studi tahun lalu dapat menjadi salah satu penjelasan mengapa penerimaan tumbuh. Dengan anggaran rata-rata Rp493 juta yang mendekati kategori menengah atas, konsumen ini berpotensi mempertimbangkan teknologi dan reputasi merek, bukan hanya harga.

Citra merek yang terpetakan juga patut dicermati: apakah minat pada mobil listrik akan terkonsentrasi pada merek yang menonjolkan teknologi, atau meluas ke merek yang kuat di layanan purnajual dan garansi.

Baca juga

Terbaru