PLTN di Batam dan Halmahera Masih Dikaji, Kapasitas Belum Ditetapkan
Poin kunci
- 1Batam dikaji sebagai salah satu lokasi PLTN, bersama Halmahera, Kalimantan, dan Sumatra.
- 2Kerja sama pengembangan PLTN di Halmahera sedang dikaji dengan Rusia.
- 3Pembangunan belum diputuskan karena pemerintah menunggu hasil studi kelayakan (feasibility study).
- 4Kapasitas pembangkit yang akan dibangun belum ditetapkan.
- 5Indonesia disebut memiliki potensi uranium hingga 89.000 ton dan thorium 143.000 ton.

Pemerintah tengah mengkaji pembangunan PLTN di Batam, Halmahera, Kalimantan, dan Sumatra, menurut Bahlil Lahadalia pada 26 Oktober 2026. Kajian Halmahera dilakukan bersama Rusia, sementara keputusan menunggu studi kelayakan dan kapasitas belum ditetapkan. Bahan yang ada tidak menyebut kaitan langsung dengan industri kendaraan listrik.
JAKARTA, KABAR GAS POL — Pemerintah sedang mengkaji pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Batam, Kepulauan Riau, dan Halmahera, Maluku Utara. Rencana itu disampaikan Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026.
Bahlil disebut sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi oleh detikFinance dan ANTARA, sedangkan Republika menyebutnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Menurut keterangannya, lokasi yang dikaji tidak berhenti di dua titik itu. Kalimantan dan Sumatra turut masuk daftar. "Ada beberapa tempat. Tidak di satu tempat, ada beberapa tempat," kata Bahlil.
Untuk Halmahera, mitra yang dijajaki adalah Rusia. "PLTN nuklir yang akan di Halmahera itu, itu adalah kerja sama kalau tidak salah, dalam kajian sekarang masih dalam kajian, itu dengan Rusia," kata Bahlil. Pemerintah juga telah menjalin kerja sama dengan beberapa negara terkait rencana nuklir, dan salah satu yang masih berstatus studi akan ditempatkan di Kepulauan Riau.
Semua rencana itu masih dalam tahap kajian. Pemerintah mempertimbangkan kelayakan proyek lewat studi kelayakan sebelum mengambil keputusan di lokasi mana pun. "Ini kita kaji dulu, kita sedang mempertimbangkan, kalau sudah lolos FS-nya, baru kita lakukan," ujar Bahlil. Soal negara mitra, ia menyebut yang dipilih adalah negara yang memiliki kemampuan nuklir dan sudah teruji.
Belum ada angka kapasitas pembangkit. Pemerintah masih menunggu hasil studi kelayakan untuk menentukan kesesuaian lokasi. Bahlil juga menanggapi kekhawatiran publik. "Dimungkinkan, kalau dia memenuhi standar FS-nya. Kenapa harus takut?" kata dia.
Di sisi kesiapan teknologi, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan riset nuklir yang dikembangkan BRIN dan lembaga pemerintah lain diarahkan untuk kebutuhan energi dan kesehatan. BRIN memamerkan hasil riset dan inovasinya di Istana Kepresidenan pada 6 Agustus untuk menunjukkan kesiapan teknologi pendukung pembangunan PLTN.
Indonesia disebut memiliki potensi uranium hingga 89.000 ton dan thorium 143.000 ton, dan peneliti telah berhasil memurnikan uranium hingga 60 persen.
Bahlil menyatakan kajian ini bertujuan mendukung ketahanan energi nasional. Dalam bahan yang tersedia, tidak ada pernyataan yang mengaitkan rencana PLTN ini secara langsung dengan kebutuhan listrik industri kendaraan listrik.
Analisis redaksi
Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta
Dari sudut ekonomi, rencana ini patut dicermati karena Batam dan Halmahera berada di wilayah yang selama ini lekat dengan kegiatan industri. Namun bahan yang ada tidak menyebut kebutuhan listrik industri kendaraan listrik, sehingga kaitan itu hanyalah tafsir, bukan fakta. Penegasan bahwa kajian bertujuan mendukung ketahanan energi nasional dapat dibaca sebagai upaya menyiapkan pasokan listrik yang stabil, tetapi arah pemanfaatannya belum dijelaskan.
Belum adanya angka kapasitas dan status proyek yang masih menunggu studi kelayakan membuat dampak terhadap tarif listrik maupun harga energi belum dapat dihitung. Pertanyaan soal biaya investasi, skema pembiayaan, dan pihak yang menanggung risiko belum terjawab dalam bahan yang tersedia. Pilihan mitra juga patut dicermati: kajian Halmahera bersama Rusia berdampingan dengan pernyataan bahwa negara mitra harus memiliki kemampuan nuklir yang teruji, sehingga syarat itu berpotensi menjadi penentu kerja sama. Potensi uranium dan thorium dalam negeri dapat menjadi nilai tambah, tetapi kelayakan komersialnya baru bisa dinilai setelah hasil studi keluar.
- PLTN
- Batam
- Halmahera
- Bahlil Lahadalia
- BRIN
- Rusia
Baca juga
Bahlil: 30 Perusahaan Cangkang Tak Lagi Bisa Impor BBM, Bagaimana Harganya?
10 jam laluKebijakanMenperin Kaji Pengecualian Ganjil Genap Mobil Listrik, Pemilik BEV Jakarta Menunggu
5 jam laluBisnis OtomotifHyundai Kuatkan Pemasok Lokal dan Pasok 11 Bus Listrik ke Bali
25 Okt 2026, 06.18Bisnis OtomotifHormuz Diakali, Minyak Tetap Mengalir: Siapa yang Menanggung Biaya Logistik?
25 Okt 2026, 09.04Terbaru
- IMOS 2026 Diikuti 15 Merek Motor, Sepuluh di Antaranya Bukan Anggota AISI · Mobil ·
- VW Tour Satukan Tanah Lot dan Jatiluwih dalam Satu Rute di Tabanan · Mobil ·
- Kurir dan Ojol Jadi Sasaran Pertama Motor Listrik 2027, Bagaimana Syaratnya? · Kebijakan ·
- Tiga Pertanyaan yang Tersisa dari Prospektus IPO Anthropic: Biaya, Cloud, Risiko · Bisnis Otomotif ·