Anggaran Rp1,28 Triliun Rekening Gratis: Seberapa Jauh Inklusi Keuangan Naik?

Redaksi Kabar Gas PolTerbit Diperbarui

Poin kunci

  1. 1Anggaran turun 66,32 persen dari rencana awal Rp3,8 triliun, setelah data calon penerima disisir dan dipadankan.
  2. 2Setiap rekening baru mendapat setoran awal Rp50.000, dan pembukaannya direncanakan lewat BRI dan BSI.
  3. 3Survei OJK 2026 mencatat inklusi keuangan 93,61 persen dengan literasi keuangan 69,57 persen.
  4. 4Airlangga menegaskan tidak ada rencana membagikan telepon seluler gratis, berbeda dari penjelasan Hashim Djojohadikusumo sebelumnya.
Tampilan dekat kalkulator, pena, dan laporan keuangan di atas meja kayu.
Ilustrasi · Foto: Bia Limova / Pexels

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah menyiapkan Rp1,28 triliun untuk program Satu Orang Satu Rekening bagi sekitar 25 juta warga dari kelompok desil 1-4. Targetnya, inklusi keuangan naik dari 93 persen menjadi mendekati 99 persen. Angka itu jauh lebih kecil dari rencana awal sekitar Rp3,8 triliun.

JAKARTA, KABAR GAS POL — Pemerintah menyiapkan anggaran Rp1,28 triliun untuk program Satu Orang Satu Rekening, kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Program tersebut dimaksudkan mendongkrak inklusi keuangan dari 93 persen ke mendekati 99 persen. "Dengan program Satu Orang Satu Rekening ini, inklusivitas keuangan kita mendekati 99 persen. Jadi naik dari 93 persen menjadi 99 persen," kata Airlangga.

Tiap rekening baru akan diisi setoran awal Rp50.000. Pembukaan rekening direncanakan lewat PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk.

Anggaran yang diumumkan ini jauh di bawah rencana semula. Pemerintah mulanya menargetkan sekitar Rp3,8 triliun untuk rekening gratis bagi warga yang baru berusia 17 tahun. Besarannya turun 66,32 persen pada 2026.

"Sudah ada (data calon penerima). Makanya, anggarannya sekitar Rp1,28 berapa triliun, tuh," ujarnya.

Jumlah sasaran pun menyusut. Pada September, pemerintah menyebut ada sekitar 74 juta warga yang belum memiliki rekening bank. Setelah pencocokan data, kelompok yang dibidik program ini mengerucut menjadi 25 juta orang di desil satu sampai empat.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK 2026 mencatat inklusi keuangan Indonesia sudah 93,61 persen, dengan literasi keuangan 69,57 persen. Artinya, ruang kenaikan yang dijanjikan program ini berada pada selisih sekitar lima poin persentase dari posisi terkini.

Rekening yang dibuka dirancang menjadi saluran penyaluran stimulus ekonomi Rp31 triliun. Di antaranya bantuan beras Rp17,55 triliun untuk 33,24 juta keluarga dan subsidi upah Rp300.000 per bulan bagi 13,3 juta pekerja. Penggunaan rekening yang sama untuk penyaluran bantuan direncanakan mulai kuartal IV 2026.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut program ini berawal dari evaluasi Presiden Prabowo Subianto soal banyaknya perputaran uang masyarakat yang belum tercatat di perbankan formal. "Intinya, waktu rapat di Istana, ya, Bapak Presiden menyampaikan bahwa PDRB kita itu sebetulnya lebih dari yang ada," kata Tito.

Airlangga menegaskan bahwa program ini tidak berhenti pada pembukaan rekening. "Nah, ini kami akan dorong untuk efektivitas penyaluran bantuan dan kegiatan produktif, jadi bukan soal hanya pembukaan rekening," katanya.

Di sisi lain, muncul perbedaan penjelasan soal perangkat. Menurut Hashim, ponsel itu dilengkapi rekening dengan saldo awal Rp50 ribu.

"Setiap warga negara akan diberikan ponsel yang dilengkapi rekening digital. Seluruh dana akan tersedia di sana dan dikirimkan ke rekening masing-masing," kata Hashim. Ia juga merujuk data Bank Dunia bahwa 30 persen penduduk Indonesia belum memiliki rekening bank.

Airlangga membantah gambaran itu. Pemerintah, tegasnya, tidak punya rencana membagikan telepon seluler gratis kepada masyarakat. "Kalau saya sudah bicara Pak Hashim, enggak bicara begitu, maksudnya bukan itu," ujar Airlangga.

Ke depan, bantuan tunai akan dikirim langsung oleh Kementerian Keuangan ke rekening digital pada ponsel penerima manfaat. Selain itu, program Rekening Pelajar tercatat diikuti 59,18 juta pelajar dengan total tabungan Rp27 triliun.

Analisis redaksi

Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta

Dari sisi ekonomi, angka Rp1,28 triliun untuk 25 juta rekening menunjukkan program ini berskala setoran awal, bukan subsidi besar. Dengan setoran Rp50.000 per rekening, dana yang dialokasikan hanya cukup sebagai modal pembuka. Karena itu, nilai ekonomi program ini berpotensi lebih bergantung pada apakah rekening dipakai aktif untuk menerima bantuan dan bertransaksi, bukan pada besarnya saldo awal. Airlangga sendiri menekankan bahwa tujuannya bukan sekadar pembukaan rekening.

Penunjukan BRI dan BSI sebagai penyedia rekening dapat memberi kedua bank itu basis nasabah baru dalam jumlah besar. Apakah hal itu berpotensi menggeser peta persaingan perbankan ritel menjadi pertanyaan yang patut dicermati, sebab bahan yang ada belum memuat data soal biaya layanan, saldo minimum, maupun tingkat penggunaan rekening. Bantuan beras dan subsidi upah yang direncanakan melewati rekening ini juga membuka pertanyaan seberapa besar uang tunai yang selama ini beredar di luar sistem akan masuk tercatat. Selisih penurunan anggaran dari rencana awal pun dapat dibaca sebagai hasil pemadanan data yang lebih sempit, sehingga ketepatan sasaran menjadi ujian pertama program ini.

  • Airlangga Hartarto
  • Satu Orang Satu Rekening
  • Inklusi Keuangan

Baca juga

Terbaru