Gibran Tinjau Solar Nelayan dan SAF Jelantah di Cilacap

Redaksi Kabar Gas PolTerbit Diperbarui

Poin kunci

    Seorang pria dewasa mencium bendera Indonesia dalam gerakan patriotik di siang hari, melambangkan kebanggaan nasional.
    Ilustrasi · Foto: Daris Ardiansyah / Pexels

    Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau penyaluran solar subsidi bagi nelayan dan pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Kilang Pertamina Cilacap pada 26-27 Oktober 2026. Kunjungan ini menyoroti upaya pemerintah memastikan ketersediaan bahan bakar serta potensi ekonomi dari pengelolaan minyak jelantah oleh masyarakat. Langkah ini menjadi fokus dalam mendorong kerja sama antara pemerintah daerah, BUMN, dan komunitas lokal untuk kesejahteraan ekonomi.

    Dalam agenda tersebut, ia bertemu dengan para nelayan di Tempat Pelelangan Ikan Tegalkatilayu untuk membahas akses terhadap solar bersubsidi.

    PT Pertamina Patra Niaga membina bank sampah di Kabupaten Cilacap untuk mengumpulkan minyak jelantah sebagai bahan baku SAF.

    "Pengembangan SAF harus berjalan bersama pemberdayaan masyarakat. Sehingga minyak jelantah yang dikelola ibu-ibu melalui bank sampah dapat memiliki nilai ekonomi dan terhubung dengan industri nasional," kata Gibran. Ekonom Icuk Rangga Bawono menilai kunjungan ini membuka peluang kerja sama pemerintah daerah dengan BUMN. Sektor industri pengolahan menyumbang 54,11 persen terhadap perekonomian Kabupaten Cilacap.

    "Solar adalah kebutuhan penting bagi nelayan. Sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memastikan kuota dan ketersediaan solar sesuai dengan kebutuhan di lapangan," kata Gibran.

    Analisis redaksi

    Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta

    Kunjungan Wakil Presiden ke Cilacap menyoroti dua isu ekonomi yang saling terkait: efisiensi subsidi energi dan diversifikasi bahan bakar terbarukan. Dari sisi subsidi, keterbatasan solar bagi kapal di bawah 30 GT menjadi tantangan distribusi. Pemerintah perlu memastikan kuota sesuai kebutuhan riil untuk mencegah kebocoran dan memastikan nelayan kecil tetap beroperasi. Ini penting karena sektor perikanan menyumbang 10,10 persen terhadap perekonomian Cilacap. Efisiensi penyaluran dapat mengurangi beban anggaran negara dan meningkatkan daya saing nelayan.

    Di sisi lain, pengembangan SAF dari minyak jelantah menawarkan peluang ekonomi sirkular. Kilang Cilacap dengan kapasitas 348.000 barrel per hari memiliki potensi besar untuk memproduksi SAF. Bank sampah yang dibina Pertamina mampu mengumpulkan minyak jelantah secara konsisten. Hal ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan mengurangi limbah lingkungan. Ekonom Icuk Rangga Bawono menilai kunjungan ini membuka peluang kerja sama pemerintah daerah dengan BUMN. Optimalisasi sinergi ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

    • Gibran Rakabuming Raka
    • Pertamina Cilacap
    • Sustainable Aviation Fuel
    • Minyak Jelantah

    Baca juga

    Terbaru