ARB 7% Redam Panik Saham, tapi Bisa Tekan Likuiditas Lewat Antrean Jual?

Redaksi Kabar Gas PolTerbit Diperbarui

Poin kunci

  1. 1Batas ARB untuk saham berharga di atas Rp10 turun dari 15% menjadi 7% pada 19 Oktober–31 Desember 2026, sedangkan batas ARA tidak berubah.[9][18]
  2. 2IHSG anjlok 11,57% pada 16 Oktober setelah MSCI membuka konsultasi penurunan status Indonesia menjadi standalone market.[1][4]
  3. 3Pada hari pertama aturan berlaku, IHSG ditutup melemah 3,64% ke 4.996,61 dan 351 saham terkunci di ARB.[13]
  4. 4BEI akan mengeluarkan seluruh saham HSC, yang berbobot sekitar 18% di IHSG, dari perhitungan indeks.[7]
  5. 5Goldman Sachs memperkirakan arus keluar dana pasif bisa mencapai US$5,6 miliar jika Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI.[13]
Tampilan atas grafik dan pensil berwarna di meja di samping laptop, sempurna untuk tema bisnis atau pendidikan.
Ilustrasi · Foto: Lukas Blazek / Pexels

Pada hari pertama berlaku, IHSG tetap ditutup turun 3,64% dan 351 saham terkunci di ARB. Direktur Utama BEI menilai langkah ini efektif meredam kepanikan, sementara ekonom mengingatkan risikonya terhadap proses penyesuaian harga.

Langkah ini dilakukan dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan [2].

Sebelumnya, batas ARB untuk saham di atas Rp10 berada di angka 15% [17]. Aturan baru tertuang dalam SK Direksi BEI Nomor Kep-00157/BEI/10-2026, pengganti SK Nomor Kep-00136/BEI/09-2026 [3]. Batas penurunan untuk saham Rp1 hingga Rp10 tetap Rp1 [9].

Batas auto rejection atas (ARA) tidak berubah: 35% untuk harga Rp11–Rp200, 25% untuk di atas Rp200 hingga Rp5.000, dan 20% untuk di atas Rp5.000 [18]. Dengan harga acuan Rp1.000, saham kini maksimal turun sekitar Rp70 dalam sehari [10].

Pemicunya adalah gejolak pasar sepanjang pekan lalu. Indeks harga saham gabungan merosot 11,57% ke level 5.185 pada Jumat, 16 Oktober, setelah MSCI mengumumkan konsultasi untuk menurunkan status Indonesia dari emerging market ke standalone market [1]. Perdagangan sempat dihentikan sementara selama 30 menit pada hari itu [10].

MSCI membuka konsultasi pada 15 Oktober 2026 [4]. Prosesnya berlangsung hingga 30 April 2027, dan keputusan akhir diumumkan paling lambat 30 Juni 2027 [16].

"Ketentuan terbaru ini efektif diberlakukan sejak 19 Oktober 2026 sampai dengan 31 Desember 2026, dan akan dievaluasi kembali mengikuti perkembangan yang terjadi di pasar," kata Elsierra [1].

BEI menyebut tujuan penyesuaian ini adalah menjaga perdagangan tetap teratur, wajar, dan efisien [14]. Menurut Elsierra, batas baru memberi kesempatan investor mengevaluasi informasi sebelum memutuskan. "Ini bertujuan memberi kesempatan kepada investor untuk mengevaluasi informasi yang tersedia sebelum mengambil keputusan investasi, dengan mempertimbangkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia," ujarnya [18].

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menggambarkan latar situasinya. "Apa yang kita lihat di hari Jumat itu adalah sesuatu yang unexpected. Sesuatu yang unexpected tentu akan menimbulkan ketidakpastian," kata Jeffrey [11].

Hasil hari pertama beragam. IHSG ditutup melemah 188,49 poin atau 3,64% ke 4.996,61, dengan nilai transaksi Rp25,13 triliun [13]. Sebanyak 351 saham, atau sekitar 36% dari 963 saham tercatat, terkunci di batas ARB [13]. Saham BBCA turun 6,86% ke Rp4.820 [13].

Jeffrey menilai langkah itu bekerja pada sesi pertama. "Sesi pertama ini itu cukup efektif untuk meredam kepanikan pasar," kata Jeffrey [13]. Pada sesi I, IHSG turun sekitar 5% dan tidak menyentuh batas ARB 7% [12].

Kalangan analis memberi catatan. M. Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas menilai kebijakan ini efektif untuk memperhalus koreksi IHSG akibat penjualan panik, terutama pada saham berkapitalisasi besar [6]. Rully Wisnubroto, Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengingatkan sisi lainnya. "Jika tekanan jual tetap tinggi, batas yang lebih ketat berpotensi memperpanjang proses penyesuaian harga," ujar Rully [5].

Rully juga menyebut risiko kerugian tidak otomatis berkurang. "Akibatnya, meskipun penurunan harga harian dibatasi, risiko kerugian investasi tidak otomatis berkurang," katanya [5]. Hitungan matematis menunjukkan penurunan 7% lima hari berturut-turut mencapai sekitar 30,4% [16].

Selain ARB, BEI menyiapkan dua inisiatif baru setelah bertemu MSCI secara daring pada 19 Oktober. Keduanya adalah menambahkan keterangan afiliasi pada publikasi pemegang saham 1% dan mengeluarkan saham High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG [8]. Saham HSC berbobot sekitar 18% di IHSG, dan waktu efektif kebijakan akan disampaikan kemudian [7][15].

Analisis redaksi

Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta

Bila ditarik ke lensa ekonomi, pembatasan penurunan harian pada saham bukan sekadar urusan investor bursa. Penurunan indeks yang berlangsung cepat dapat menekan keyakinan pasar secara luas, dan Goldman Sachs memperkirakan potensi arus keluar dana pasif hingga US$5,6 miliar bila Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI [13]. Dalam kerangka itu, ARB 7% dapat dibaca sebagai upaya menahan laju penurunan sambil menunggu keputusan MSCI, yang dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027 [4].

Pertanyaan terbesarnya adalah likuiditas. Pada hari pertama, 351 saham terkunci di batas bawah [13], dan ekonom mengingatkan batas yang lebih ketat berpotensi memperpanjang proses penyesuaian harga bila tekanan jual bertahan [5]. Artinya, antrean jual yang menumpuk berpotensi membuat sebagian saham sulit dilepas pada hari-hari berikutnya, sehingga patut dicermati apakah ketenangan di sesi pertama bertahan. Bahan yang ada tidak memuat kaitan langsung ke harga BBM maupun pajak kendaraan, sehingga redaksi tidak menarik kesimpulan ke arah itu; konteksnya terbatas pada kebijakan sementara bursa yang akan dievaluasi hingga akhir tahun [1].

Baca juga

ARB 7% dan Dampak pada Likuiditas IHSG