Stok BBM Bali Diklaim Naik Jadi 15 Hari, Kapal Angkut Ditambah Jadi 7

Redaksi Kabar Gas PolTerbit Diperbarui

Poin kunci

  1. 1Cadangan BBM Bali naik dari 11 hari menjadi 15 hari, sementara kapal pengangkut dari Jawa ke Bali bertambah dari tiga menjadi tujuh.[4][1]
  2. 2Stok BBM nasional dinyatakan aman hingga 20 hari ke depan, dan antrean di Bali serta Jawa Timur disebut telah terurai.[2][6]
  3. 3Keluhan Pertamax kosong masih dilaporkan di Denpasar Barat, Gianyar, Tabanan, dan Karangasem.[5]
  4. 4Ganjil-genap pengisian BBM di Bali diperpanjang hingga 23 Oktober 2026.[4]
Profesional bisnis yang terlibat dalam rapat kolaboratif di sekitar meja konferensi.
Ilustrasi · Foto: Vlada Karpovich / Pexels

Bahlil Lahadalia menyebut cadangan BBM di Bali naik dari 11 hari menjadi 15 hari setelah armada kapal pengangkut dari Jawa ditambah dari tiga menjadi tujuh unit. Pernyataan itu muncul pada Senin, 19 Oktober 2026, di tengah keluhan Pertamax kosong di sejumlah SPBU Bali dan antrean di Jawa Timur. Pemerintah menegaskan stok nasional aman, sementara aturan ganjil-genap pengisian BBM di Bali diperpanjang hingga 23 Oktober 2026.

JAKARTA, KABAR GAS POL — Cadangan BBM di Bali kini diklaim meningkat dari 11 hari menjadi 15 hari, menurut Bahlil Lahadalia, yang disebut sebagai Menteri ESDM dalam pemberitaan CNN Indonesia [4]. Peningkatan itu ditopang penambahan kapal pengangkut dari Jawa ke Bali, dari tiga menjadi tujuh unit [4].

Sebelumnya, cadangan BBM di Pulau Dewata sempat merosot sekitar tiga hingga empat hari. Penyebabnya adalah kapal pengangkut dari Jawa yang terlambat tiba serta kendala pada manajemen logistik internal [1].

Di tingkat nasional, Bahlil memastikan stok BBM aman hingga 20 hari ke depan [2]. Rincian dari angka itu menunjukkan cadangan Pertalite berada pada kisaran 16 hingga 18 hari, sedangkan jenis BBM lain tersedia untuk lebih dari 20 hari [4].

"Secara cadangan nasional tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Sekarang distribusinya yang kita perlancar," kata Bahlil Lahadalia [4]. Pernyataan itu menggeser fokus persoalan dari ketersediaan stok ke kelancaran pengiriman.

Antrean BBM yang sempat terjadi di Bali dan Jawa Timur disebut telah terurai [6]. Meski begitu, aturan ganjil-genap bagi pengisian BBM di Bali masih berlaku dan diperpanjang sampai 23 Oktober 2026 [4].

Di lapangan, keluhan belum sepenuhnya reda. Pertamax dilaporkan masih kosong di sejumlah SPBU, terutama di Denpasar Barat, Gianyar, Tabanan, dan Karangasem [5].

Gubernur Bali Wayan Koster menyampaikan data stok dalam rapat koordinasi di Terminal BBM Pertamina Sanggaran, Denpasar, Senin (19/10/2026). Menurut data itu, Pertalite mencapai 30,136 juta liter dan Pertamax 11,045 juta liter. Stok Biosolar tercatat 1,752 juta liter, sedangkan Solar 10,356 juta liter [5].

"Sesungguhnya Pertamax ini kemarin kami sudah menerima kapal Pertamax. Dan besok akan tiba lagi kapal Pertamax," kata Mars Ega [5]. Ia juga berjanji memaksimalkan pasokan Pertamax untuk Pertashop, tidak hanya SPBU [4].

Stok BBM di provinsi itu tercatat 60.000 kiloliter pada hari yang sama, setara kebutuhan enam hari [3].

Cadangan Pertamina di Jawa Timur kemudian naik menjadi 80.000 kiloliter setelah armada kapal tiba, cukup untuk delapan hari [3]. Volume pengiriman BBM ke Jawa Timur sebelumnya menyusut pada periode akhir September hingga pertengahan Oktober 2026 [3].

Sementara itu, Bisnis.com memuat angka yang berbeda untuk Bali, yakni stok 11 hingga 12 hari dengan target segera setara cadangan nasional [7]. Perbedaan angka antarsumber itu menunjukkan posisi stok di lapangan masih bergerak.

Analisis redaksi

Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta

Dari lensa ekonomi, persoalan di Bali tampak lebih bersifat logistik ketimbang soal kecukupan pasokan nasional. Stok nasional dinyatakan aman, tetapi keterlambatan kapal dan kendala manajemen internal membuat cadangan Bali sempat turun tiga hingga empat hari [1][2].

Bagi konsumen, kelangkaan Pertamax di sejumlah SPBU dan pembatasan ganjil-genap dapat mendorong peralihan ke jenis BBM lain atau pembelian lewat saluran berbeda [5][4]. Apakah peralihan itu terjadi dan seberapa besar, bahan yang ada belum memuat datanya, sehingga patut dicermati. Perbedaan angka cadangan Bali antara 15 hari dan 11 hingga 12 hari juga menjadi pertanyaan tentang acuan perhitungan yang dipakai [4][7]. Selama distribusi belum stabil, risiko gejolak di tingkat eceran tetap perlu dipantau.

Baca juga