Rupiah Tembus Rp18.000, IHSG Trading Halt, BI Jaga Stabilitas

Redaksi Kabar Gas PolTerbit Diperbarui

Poin kunci

    Uang kertas Euro yang dijepit pada sebuah garis, melambangkan konsep keuangan seperti pencucian uang atau tabungan.
    Ilustrasi · Foto: Pixabay / Pexels

    Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus level psikologis Rp18.000 pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, seiring dengan penguatan dolar global. Bank Indonesia menegaskan komitmen untuk terus melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental ekonomi.

    JAKARTA, KABAR GAS POL — Tekanan jual terhadap rupiah mencapai puncaknya pada pembukaan perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, ketika nilai tukar mata uang domestik menyentuh level Rp18.000 per dolar AS [1]. Peristiwa ini menandai momen psikologis penting dalam sejarah nilai tukar rupiah modern, di mana batas angka bulat tersebut berhasil ditembus seiring dengan penguatan dolar Amerika Serikat di pasar global.

    Di pasar spot, rupiah sempat dibuka di level Rp18.011 sebelum kemudian terdepresiasi lebih dalam hingga menyentuh Rp18.087 per dolar AS [2]. Data dari ANTARA mencatat pelemahan awal sebesar 83 poin atau 0,46 persen menjadi Rp18.021 pada pagi hari [3]. Pada pukul 10.15 WIB, posisi rupiah tercatat di Rp18.071, menunjukkan adanya upaya pemulihan terbatas sebesar 133 poin atau 0,74 persen dari posisi sebelumnya [4].

    Pergeseran nilai tukar ini berdampak langsung pada pasar modal. IHSG turun lebih dari 8 persen pada pembukaan perdagangan Jumat, sebuah penurunan yang cukup signifikan untuk memicu mekanisme trading halt [2]. Penurunan semakin dalam terjadi hingga pukul 10.25 WIB, ketika indeks berada di kisaran 5.250 [2].

    Bank Indonesia (BI) merespons dinamika ini dengan menegaskan bahwa institusi tersebut berkomitmen untuk terus hadir di pasar. Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, menyatakan bahwa langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik [1].

    Erwin Gunawan Hutapea juga menjelaskan bahwa di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dolar AS dan menekan pasar keuangan domestik, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut [4].

    Melihat proyeksi ke depan, beberapa analis memperingatkan potensi pelemahan lebih lanjut. MUFG mempertahankan prospek rupiah pada akhir tahun ini di level Rp18.350 [2]. Sementara itu, analisis dari KONTAN menyebutkan bahwa rupiah berpotensi terperosok ke kisaran Rp18.500 per dolar AS [5]. Pelemahan rupiah pekan ini juga terimbas oleh pengumuman MSCI, yang menambah tekanan pada sentimen pasar [6].

    Di sisi lain, Michael Wan, Senior Currency Analyst MUFG, menyoroti bahwa kekhawatiran tentang pendanaan AI dan keberlanjutan belanja infrastruktur sangat membebani saham semikonduktor [2]. Hal ini menunjukkan bahwa faktor sektor teknologi dan infrastruktur global turut mempengaruhi volatilitas pasar yang terjadi. DXY stabil di kisaran 102 pada awal sesi Asia, sementara rupee India menguat 0,11 persen terhadap dolar AS [2].

    Analisis redaksi

    Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta

    Fenomena pelemahan rupiah ke level Rp18.000 dan trading halt di IHSG mengindikasikan adanya aliran dana keluar yang masif dari aset domestik ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven) seperti dolar AS. Hal ini sejalan dengan pernyataan BI mengenai sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dolar [4]. Dalam konteks ekonomi, penguatan dolar AS yang signifikan dapat meningkatkan beban utang korporasi yang berdenominasi dolar, serta berpotensi menaikkan biaya impor bahan baku. Jika rupiah terus bergerak mendekati proyeksi Rp18.350 hingga akhir tahun [2] atau bahkan Rp18.500 [5], Bank Indonesia mungkin perlu mempertimbangkan langkah kebijakan moneter yang lebih ketat, seperti kenaikan suku bunga acuan, untuk menahan laju pelemahan .

    Dampak terhadap pasar modal juga patut dicermati. Trading halt yang terjadi akibat penurunan IHSG lebih dari 8 persen [2] menunjukkan bahwa investor institusi maupun ritel sedang melakukan restrukturisasi portofolio secara agresif. Penurunan saham perbankan dan teknologi hingga hampir 15 persen [2] mencerminkan kehati-hatian terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global. Cadangan devisa sebesar US$146,3 miliar [1] tetap menjadi faktor penstabil utama, namun efektivitas intervensi BI akan sangat bergantung pada seberapa cepat sentimen risk-off global mereda. Jika arus keluar dana dari aset portofolio domestik berlanjut seperti perkiraan BI [4], maka tekanan pada nilai tukar dan pasar saham berpotensi bertahan dalam jangka pendek.

    Baca juga

    Rupiah Tembus Rp18.000, IHSG Trading Halt, BI Jaga