GoTo Luncurkan LLM 27 Miliar Parameter yang Paham Bahasa Bali
Poin kunci
- 1GoTo memperkenalkan LLM 27 miliar parameter yang menyasar pemahaman bahasa Indonesia dan bahasa daerah, termasuk Bahasa Bali.[1]
- 2Peluncuran berlangsung di Bali Tech Week, Sanur, Denpasar.[1]
- 3Model tersedia tanpa biaya untuk startup, pelaku bisnis, universitas, peneliti, dan institusi publik.[1]
- 4Telkom Group di forum yang sama memaparkan tiga pilar strategis: sovereign digital infrastructure, sovereign intelligence impact, dan sovereign trust and resilience.[2][3]

GoTo meluncurkan model bahasa besar (LLM) berkapasitas 27 miliar parameter dalam Bali Tech Week di Sanur, Denpasar. Model ini disiapkan untuk mengenali bahasa Indonesia sekaligus bahasa daerah, termasuk Bahasa Bali, dan dibuka gratis bagi startup, pelaku bisnis, kampus, peneliti, serta institusi publik.
JAKARTA, KABAR GAS POL — GoTo memperkenalkan model bahasa besar (LLM) dengan 27 miliar parameter dalam rangkaian Bali Tech Week di Sanur, Denpasar. Model tersebut dirancang untuk memahami bahasa Indonesia serta bahasa daerah, antara lain Bahasa Bali [1].
Model baru itu dibuka secara cuma-cuma. Penggunanya mencakup startup, pelaku bisnis, universitas, peneliti, hingga institusi publik [1].
Untuk melatihnya, GoTo memakai teks berbahasa Indonesia dari mitra media dan situs web sektor publik. Data bahasa daerah juga dimasukkan ke dalam proses pelatihan [1].
"Indonesia telah memanfaatkan teknologi AI buatan luar negeri dengan baik. Namun, kita juga perlu mengembangkan AI buatan sendiri untuk menjawab tantangan dan kebutuhan lokal," kata Hans Patuwo [1].
Ia juga mengaitkan peluncuran ini dengan arah kebijakan pemerintah. "Ini sejalan dengan Visi Indonesia Digital 2045 dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk menciptakan ekosistem digital yang inklusif, kolaboratif, dan berbasis inovasi," ujar Hans Patuwo [1].
Di ajang yang sama, PT Telkom Indonesia mengusung penguatan kedaulatan digital lewat pengembangan infrastruktur, kecerdasan buatan, dan ekosistem teknologi mandiri [2][3]. Telkom Group menyatakan komitmen mendukung inisiatif Kementerian Komunikasi dan Digital untuk mempercepat transformasi digital nasional [2][3].
Agenda transformasi digital pemerintah bertumpu pada tiga pilar, yakni terhubung, tumbuh, dan terlindungi [2][3]. Adapun Telkom Group merumuskan tiga pilar strategisnya sendiri: sovereign digital infrastructure, sovereign intelligence impact, serta sovereign trust and resilience [2][3].
Dari sisi jangkauan, Telkom membidik konektivitas yang mencakup seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke [2][3]. Target itu disebut sejalan dengan peta jalan Indonesia Digital Nation menuju Indonesia Emas 2045 [2][3].
"Karena masa depan teknologi digital tidak akan dibangun oleh satu perusahaan atau institusi saja. Masa depan itu akan dibangun oleh ekosistem yang bergerak maju bersama," kata Nanang [2].
Nanang juga menegaskan tujuan akhirnya. "Pada akhirnya, kita tidak hanya membangun jaringan, tetapi membangun kemampuan Indonesia untuk menentukan masa depan digitalnya sendiri," ujar Nanang [2].
Analisis redaksi
Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta
Peluncuran model GoTo dan paparan Telkom berlangsung dalam forum yang sama, dan keduanya memakai kerangka yang mirip: kemampuan digital yang dikembangkan sendiri. Hans Patuwo menyebut perlunya AI buatan sendiri untuk kebutuhan lokal [1], sementara Nanang menyebut kemampuan Indonesia menentukan masa depan digitalnya sendiri [2]. Kedua pernyataan ini berpotensi dibaca sebagai sinyal bahwa isu kedaulatan digital dibicarakan di lapisan yang berbeda, yakni model AI di satu sisi dan jaringan serta infrastruktur di sisi lain.
Ada beberapa hal yang patut dicermati. Bahan yang tersedia belum memuat rincian kinerja model dalam memahami Bahasa Bali atau bahasa daerah lain, sehingga kemampuan sebenarnya masih menjadi pertanyaan. Status gratis bagi kampus, peneliti, dan institusi publik [1] dapat membuka ruang eksperimen yang lebih luas, tetapi sejauh mana tawaran itu dimanfaatkan baru bisa dinilai setelah ada pemakaian nyata. Pelatihan dengan data dari mitra media dan situs sektor publik [1] juga dapat memunculkan pertanyaan tentang cakupan dan keberagaman data bahasa daerah yang dipakai. Peluncuran ini pada akhirnya bisa menjadi tolok ukur awal bagi upaya serupa di Indonesia.