48% Calon Pembeli EV Kanada Tunda Beli, 42% Menunggu Mobil Listrik China

Redaksi Kabar Gas PolTerbit Diperbarui

Poin kunci

  1. 1Sebanyak 48% responden survei Clean Energy Canada kemungkinan besar membeli kendaraan listrik sebagai mobil berikutnya.[4]
  2. 2Dari kelompok calon pembeli EV itu, 42% ingin menunggu sampai lebih banyak EV China tersedia di Kanada.[1][2][4]
  3. 3Kesepakatan Kanada-China memungkinkan masuknya 49.000 EV China per tahun, sementara realisasi impor baru sekitar 16.000 unit.[1][4]
  4. 4Kanada masih memberlakukan tarif 100% terhadap EV China.[1][2]
Mobil listrik putih yang sedang mengisi daya di stasiun di Christchurch, Selandia Baru, menampilkan transportasi modern yang ramah lingkungan.
Ilustrasi · Foto: Ed Harvey / Pexels

Survei yang diprakarsai Clean Energy Canada menunjukkan 48% responden Kanada berpeluang membeli mobil listrik berikutnya, dan 42% di antaranya memilih menunggu hadirnya lebih banyak EV China. Kesepakatan Kanada-China membuka kuota 49.000 unit per tahun, tetapi baru sekitar 16.000 unit yang masuk. Tarif 100% atas EV China masih berlaku.

JAKARTA, KABAR GAS POL — Hampir separuh responden dalam survei yang diprakarsai Clean Energy Canada menyatakan kemungkinan besar akan memilih kendaraan listrik untuk mobil berikutnya, yakni 48% [4]. Namun tidak semuanya siap membeli sekarang: 42% dari kelompok itu memilih menunggu sampai lebih banyak mobil listrik China tersedia di pasar Kanada [4].

Temuan ini memperlihatkan bahwa minat terhadap EV di Kanada tidak bertumpu pada merek yang kini beredar saja. Sebagian calon pembeli rupanya sengaja menahan keputusan demi menanti pilihan dari produsen China [1][2].

Peluang pasokan itu sebenarnya sudah dibuka lewat kesepakatan Kanada dan China yang membolehkan hingga 49.000 EV China masuk setiap tahun [4]. Meski begitu, jumlah yang telah diimpor sejauh ini baru sekitar 16.000 unit [4]. Selisih antara kuota dan realisasi tersebut menjelaskan mengapa sebagian konsumen masih berada dalam posisi menunggu.

Di sisi kebijakan, Ottawa tetap menerapkan tarif 100% terhadap EV China, besaran yang sama dengan tarif di Amerika Serikat pada masa Presiden Biden [2]. Kuota impor dan tarif tinggi berjalan beriringan, sehingga harga akhir mobil impor di Kanada menjadi faktor yang layak diperhatikan.

Konteks perdagangan Kanada juga sedang tidak sederhana. Presiden AS Donald Trump pada 14 Oktober menyatakan dalam rapat umum kampanye di Arizona bahwa Kanada akan menjadi negara bagian ke-51 [8]. Ia mengeklaim negaranya merugi hingga 100 miliar dolar AS per tahun akibat hubungan dagang dan ekonomi dengan Kanada [8].

Washington sendiri telah menjatuhkan tarif 50% pada barang Kanada senilai sekitar 20 miliar dolar, dan Ottawa membalas dengan tarif pada barang AS dalam nilai yang sama [8]. Kanada merupakan mitra dagang terbesar kedua AS setelah Meksiko, dengan porsi 12,6% dari total perdagangan negara tersebut [8].

"[Persiapan] itu hanya manajemen risiko," kata Mark Carney [6][7].

Di Indonesia, distribusi mobil plug-in hybrid asal China pada Januari-September 2026 mencapai 10.264 unit berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia [3]. Angka itu naik 209,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatat 3.316 unit [3].

BYD M6 DM-i memimpin dengan 5.121 unit, disusul Chery Tiggo 8 CSH sebanyak 2.066 unit dan Chery Tiggo 9 CSH sebanyak 550 unit [3]. Dominasi merek-merek China dalam daftar itu menggambarkan seberapa cepat produk mereka diterima ketika akses pasar terbuka.

Sementara itu, gambaran lain datang dari China sendiri. Skuter itu diparkir di lahan terbuka di samping sebuah jembatan [5].

Analisis redaksi

Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta

Lewat lensa ekonomi, temuan survei di Kanada dapat dibaca sebagai sinyal bahwa harga menjadi pertimbangan utama calon pembeli. Ketika 42% dari calon pembeli EV memilih menunggu produk China [4], sementara tarif 100% masih berlaku [2], persoalan yang patut dicermati adalah seberapa jauh harga akhir mobil impor itu dapat bersaing. Kuota 49.000 unit yang baru terpakai sekitar 16.000 unit [4] berpotensi menandakan bahwa hambatan tarif, bukan sekadar izin masuk, ikut menentukan laju pasokan. Hal ini masih berupa tafsir, sebab bahan tidak merinci penyebab rendahnya realisasi impor.

Bagi pembaca di Indonesia, pelajaran yang dapat ditarik terkait dengan cara pajak dan bea memengaruhi harga kendaraan. Lonjakan 209,5% distribusi PHEV China di dalam negeri [3] menunjukkan bahwa kendaraan elektrifikasi asal China dapat tumbuh pesat bila masuk dengan harga yang terjangkau. Sebaliknya, Kanada berada di tengah tekanan tarif timbal balik dengan AS [8], yang berpotensi membuat pemerintahnya berhati-hati dalam mengatur akses produk China. Bagaimana keseimbangan kebijakan itu akan memengaruhi harga mobil listrik dan keputusan konsumen menjadi pertanyaan yang patut diikuti.

Baca juga

48% Calon Pembeli EV Kanada Tunda Beli, 42% Tunggu Mobil