Roadster Baru Tesla Bisa Terbang, Tapi Berapa Biaya Merawat Baterainya?
Poin kunci
- 1Mobil ini memakai kipas isap berdaya 2G dan 10 pendorong gas dingin yang dikembangkan bersama SpaceX.[2]
- 2Tesla menawarkan tiga varian, yakni Performance, Thrust, dan Rocket, dengan target produksi mulai 2028.[3]
- 3Tesla mengklaim jarak tempuh lebih dari 483 kilometer per pengisian daya dan kecepatan maksimum varian Rocket sekitar 370 kilometer per jam.[3]

Tesla memamerkan Roadster generasi terbaru di fasilitas uji SpaceX, McGregor, Texas, pada 15 Oktober 2026 waktu setempat. Mobil listrik itu diklaim mampu melaju terbalik dan terbang berkat kipas isap serta pendorong gas dingin, dengan produksi ditargetkan mulai 2028. Bahan yang tersedia belum memuat angka biaya perbaikan baterai Roadster, sehingga soal ongkos kepemilikan masih menjadi pertanyaan terbuka.
Dalam peragaan itu, mobil listrik tersebut ditampilkan melaju terbalik, berjungkir balik, hingga terbang [2].
Kemampuan tersebut ditopang kipas isap di kolong dan pendorong gas dingin hasil pengembangan bersama SpaceX [2]. Daya isap kipas bergaya McMurtry itu mencapai 2G, artinya mobil tertarik ke permukaan lintasan dengan gaya dua kali bobotnya sendiri [2].
Untuk bermanuver di udara, Roadster membawa 10 pendorong gas dingin. Udara bertekanan sangat tinggi untuk pendorong itu disimpan dalam dua tangki berkapasitas 600 liter [2]. Gaya yang dihasilkan sistem pendorong disebut empat hingga lima kali lipat dari yang sanggup diberikan ban [2].
Tesla menyiapkan tiga varian, yaitu Performance, Thrust, dan Rocket, yang sama-sama dibekali sistem isap multimode [2]. Varian Thrust memiliki pendorong gas dingin di bagian belakang sehingga akselerasi 0-96 km/jam diklaim ditempuh kurang dari satu detik [2]. Klaim serupa muncul dalam pemberitaan lain, yakni 60 mil per jam, setara sekitar 96,6 kilometer per jam, dicapai dalam waktu di bawah satu detik [3].
Soal ketahanan jarak, Tesla mengklaim Roadster sanggup melampaui 300 mil, atau sekitar 483 kilometer, dalam satu kali isi daya [3]. Adapun varian Rocket diklaim punya laju puncak di atas 230 mil per jam, atau sekitar 370 kilometer per jam [3].
Elon Musk menyebut mobil ini pada dasarnya bisa terbang seperti roket [3]. Ia juga meminta penonton ikut membuktikan keasliannya. "Kami membutuhkan penonton untuk membuktikan bahwa ini (nyata), bukan AI (artificial intelligence) atau SI (super intelligence)," kata Elon Musk [3]. Usai peragaan, Musk menanggapi hasil demonstrasi dengan kalimat "Ya, ternyata berhasil," kata Musk [2].
Produksi Roadster generasi terbaru ditargetkan mulai pada 2028 [3]. Sebagai pembanding harga, model Roadster yang diperkenalkan pada 2017 dulu dibanderol dari 200.000 dollar AS, kira-kira Rp 3,59 miliar [3]. Harga versi terbaru belum tercantum dalam bahan yang tersedia.
Di lapangan, bengkel kaki-kaki Sukarindik Jaya Per tengah menyesuaikan diri dengan tren mobil listrik di kota-kota besar [1].
Analisis redaksi
Pandangan Redaksi Kabar Gas Pol — bukan laporan fakta
Pemberitaan seputar Roadster hampir seluruhnya berkisar pada performa: akselerasi, daya isap, dan teknologi pendorong [2][3]. Sementara itu, ketertarikan pembaca otomotif ternyata juga tertuju pada urusan yang lebih membumi, yakni biaya memperbaiki baterai lithium-ion [1]. Dua kutub minat ini dapat dibaca sebagai pengingat bahwa harga beli hanyalah satu bagian dari ongkos memiliki mobil listrik. Bahan yang ada tidak memuat angka perbaikan baterai Roadster, sehingga ongkos perawatannya menjadi pertanyaan yang belum terjawab.
Dari sisi ekonomi pemilik, pembanding harga model 2017 yang mulai 200.000 dollar AS atau sekitar Rp 3,59 miliar [3] menunjukkan kelas kendaraan ini. Bila versi baru berada di segmen sepadan, komponen yang mahal dan bersifat khusus, seperti dua tangki udara bertekanan 600 liter serta sistem pendorong gas dingin [2], berpotensi menambah beban perawatan. Perlu dicermati pula bahwa produksi baru ditargetkan 2028 [3], sehingga rincian harga, garansi, dan layanan purnajual masih dapat berubah. Di Indonesia, tumbuhnya bengkel yang menyesuaikan diri dengan mobil listrik [1] menjadi indikasi awal bahwa ekosistem perawatan mulai terbentuk. Sejauh mana ekosistem itu mampu menekan biaya bagi pemilik kendaraan listrik, termasuk dalam hubungannya dengan harga energi dan pajak kendaraan, patut dicermati ke depan, meski bahan yang tersedia belum memuat data soal itu.